Peduli Sesama, Bripka Ali Rawat Ratusan Anak Yatim-Piatu Terlantar

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Rumah sederhana di kawasan Kotagede Yogyakarta itu nampak seperti rumah warga pada umumnya. Yang membedakan, hampir setiap hari rumah ini selalu ramai oleh anak-anak yang sedang belajar dan mengaji. 

Mereka merupakan anak-anak yatim-piatu terlantar yang berasal dari berbagai daerah di Yogyakarta. Termasuk anak mantan narapidana kasus terorisme yang orang tuanya berada di penjara. Mereka semua tinggal dan menetap di sana. Ada yang usianya masih balita, ada pula yang telah beranjak dewasa.

Pemilik rumah itu tak lain dan tak bukan adalah Bripka Nur Ali Suwandi. Seorang polisi yang sehari-hari berdinas di Polda DIY. Ia mendirikan Rumah Singgah Yayasan Bumi Damai itu sejak 2018 silam. Misinya hanya satu, menjadikan rumah itu bermanfaat bagi sesama.

Ya, sejak lama, Bripka Ali memang dikenal sebagai seorang yang berjiwa sosial tinggi. Polisi yang juga mantan santri ini tak pernah berhenti membantu sesama. Selain membangun sejumlah masjid, sekolah gratis, hingga membina ribuan pemulung dan lansia, Bripka Ali juga mendirikan Rumah Singgah Yayasan Bumi Damai bagi anak yatim-piatu terlantar.

Bripka Nur Ali bersama para santrinya di Rumah Singgah Yayasan Bumi Damai Kotagede Yogyakarta. -Foto: Jatmika H. Kusmargana

Di rumah inilah ia merawat mereka seperti anak-anak kandungnya sendiri. Mulai dari mengajar mengaji, mendidik karakter dan kepribadian, hingga menyekolahkan mereka. Hebatnya, tak sedikit anak-anak di rumah ini yang berada dari keluarga yang tak dikenalnya.

“Anak-anak di sini ya berasal dari mana-mana. Kadang tiba-tiba ada orang yang bawa anak kecil bahkan bayi ke sini. Tidak tau siapa orang tuanya. Saya hanya diminta merawatnya saja. Katanya dapat info dari baca berita. Ya lalu kita rawat seperti anak-anak lainnya,” ungkapnya.

Saat ini total tercatat ada sebanyak 125 anak-anak yang dirawat Bripka Ali di rumah miliknya. Ia mengaku mendidik mereka layaknya santri sebagaimana dulu dirinya dibentuk. Pasalnya kehidupan Ali kecil juga tak ubahnya seperti mereka.

Berasal dari keluarga kurang mampu, Ali yang lahir di Malang sejak bayi sudah harus berpisah dari orangtuanya dan hidup bersama kakeknya di Nganjuk. Kakeknya yang juga tidak hidup berkecukupan, lalu memasukkannya ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras Jombang, sejak usia 5 tahun.

Selama di pondok pesantren itulah Ali tumbuh dan ditempa hingga menjadi sosoknya yang sekarang. Tak heran, setelah ia menjadi anggota Polisi, Ali tak tak pernah lupa pada orang-orang yang mungkin semasa kecilnya memiliki nasib seperti dirinya.

“KH Jamalludin Ahmad pimpinan pondok waktu itu memberikan dua pesan ke saya saat hendak mengikuti rekrutmen polisi. Pertama, mencintai bangsa adalah sebagian dari iman. Kedua, jika Iolos seleksi, saya harus menjadi polisi yang bermanfaat untuk Indonesia. Dua pesan itu terus terngiang dan membuat saya melakukan banyak hal,” ungkapnya.

Lihat juga...