Pekik Gagak

CERPEN ARIANTO ADIPURWANTO

PEKIK gagak kembali mengagetkan para warga. Perempuan tua yang tengah berjalan terbungkuk dengan memegang sepotong dahan sebagai tunjang, berhenti dan berusaha mendongak.

Laki-laki bertubuh mungil yang tengah duduk di halaman mengasah parang langsung menghentikan gerakan tangannya.

Anak-anak yang sedang berkumpul dan ribut di sebuah rumah tiba-tiba senyap. Mereka juga berlari ke halaman dan mendongak ke langit.

“Siapa mati?”

“Ya, siapa ya? Dari kemarin gagak ini.”

Para warga yang tengah duduk di berugak langsung memulai pembicaraan. Mereka yang tinggal berdekatan saling memanggil dengan penuh rasa penasaran, mulai membicarakan tentang pertanda buruk itu.

erempuan tua yang tengah berjalan terbungkuk memutuskan pulang. Ia merasa dirinya akan mendapat nasib buruk jika tetap pergi ke kebun.

Seorang warga yang melihatnya kembali, menanyainya dengan penuh keheranan. Tidak biasanya perempuan tua itu balik begitu cepat. Biasanya ia akan berjalan ke kebun dan mondar-mandir sampai siang tiba.

Mengumpulkan kelapa-kelapa yang jatuh, kayu bakar, biji-biji kopi dari musim kopi yang telah lama berlalu—barangkali saja ada yang belum menjadi tunas, satu dua biji kemiri, atau jambu mete ketika tiba musimnya.

Dan warga itu mengangguk-angguk mengerti ketika perempuan tua itu dengan wajah ketakutan menunjuk-nunjuk langit.

Di utara, anak-anak sebentar kemudian kembali riuh. Rasa takut lebih cepat menghilang dari diri mereka. Beda dengan orang dewasa. Di setiap berugak, kini mereka mulai menerka siapa gerangan yang telah mati.

Sepasang suami istri yang tinggal di dekat tempat anak-anak itu bermain begitu saja mengingat keluarga dan kenalan yang tinggal jauh dari mereka.

Sang istri dengan nada sedih mulai mengingat tetangganya yang dulu pernah sangat baik padanya. Seorang laki-laki yang tinggal seorang diri setelah istrinya kabur bersama laki-laki lain.

“Masih hidup ndak dia,” gumamnya. Nyaris seperti berbicara dengan dirinya sendiri.

“Mudahan masih. Maq Genjah masih hidup ndak ya,” sahut sang suami.

“Mungkin dia sudah mati.”

“Mudahan belum. Kasihan.”

“Kalau kita di sana, kita juga sudah mati.”

“Semua mati di sana itu.”

Mereka berbicara saling menimpali seolah tengah mendebatkan sesuatu yang tidak kunjung dapat disepakati. Selalu ada sebab yang membuat mereka memulai pembicaraan tentang kampung lama mereka.

Kesusahan hidup yang mencekik membangkitkan pengalaman pahit tatkala seorang laki-laki tiba-tiba datang membawa kelewang dan memaksa mereka pergi saat itu juga. Tanpa alasan. Sama sekali.

Tetapi, pada saat-saat tertentu, terutama ketika mendengar kabar satu-per satu tetangga mereka mati, mereka akan merasa sangat beruntung telah pergi cepat dari kampung itu.

“Untung kita pergi, kalau ndak kita sudah mati!” kata sang istri, selalu. Ia akan mengulang-ulang kata-katanya kepada suaminya, tetangga, dan bahkan kepada dirinya sendiri ketika ia mengetahui bekas tetangganya mati dengan cara yang sangat mengenaskan.

Ketika suara burung gagak terus memekik begitu dekat, sepasang suami istri ini sangat yakin gagak itu tengah menyampaikan sebuah kabar duka. Warga yang lain pun begitu.

Mereka mulai mengingat-ingat keluarga mereka yang tengah sakit keras atau menjalani hidup begitu miskin sampai-sampai kematian dapat kapan saja merenggut mereka.

Di rumah reot dekat rumah sepasang suami istri, beberapa warga berkumpul dan mulai berbicara dengan menggebu-gebu.

“Maq Gomboh sakit, astaga,” kata salah seorang dengan keras, seolah hendak memberitahu seluruh isi kampung.

“Saya mimpi jelek dari kemarin, mimpi gigi saya yang depan ini copot,” timpal warga yang lain sambil berusaha memegang gigi kotornya dengan telunjuk dan ibu jari sampai kata-katanya terdengar tidak begitu jelas.

“Saya mimpi pohon enau di sungai itu tumbang.”

“Ya, kemarin saya lihat banyak orang di rumahnya.” Warga ini baru saja datang. Rumahnya berada di ujung kampung. Begitu mendengar pekik gagak tadi, ia langsung berjalan pergi dari rumahnya.

Setiap saat ia selalu merasakan dorongan untuk berbicara dan ia harus menemukan alasan yang tepat untuk berkunjung ke rumah tetangga jika tidak ingin digunjingkan mulut-mulut pedas tukang gosip di kampung.

Nama Maq Gomboh bukan hanya disebut oleh mereka. Tetapi sebagian besar orang di kampung. Mereka percaya telah terjadi sesuatu pada laki-laki itu.

Mereka meyakini hidup Maq Gomboh tidak akan lama. Gagak-gagak itu telah mencium kematiannya dan tidak sabar menyampaikan kepada semua orang.

“Sudah lelah,” kata salah seorang warga. Wajahnya menunjukkan bahwa ia tengah menyampaikan hal yang jauh lebih banyak ketimbang dua kata yang baru saja ia ungkapkan. Ia hendak mengatakan bahwa Maq Gomboh sebentar lagi pasti akan mati. Pasti.

Maq Gomboh yang mereka bicarakan tinggal di kampung sebelah. Sakitnya telah bertahun-tahun. Pelan-pelan badannya membengkak. Perutnya juga semakin besar dan terakhir seperti akan meletus.

Bau busuk menguar terus dari tubuhnya. Banyak yang berkata bau busuk itu tercium dari seluruh penjuru kampung.

Berbagai dukun telah didatangi. Kebun begitu luas terjual sedikit demi sedikit untuk berobat. Hari demi hari berhasil dilewati dengan guyuran obat dari berbagai tempat.

Ada juga seorang dokter yang datang. Laki-laki berkumis tebal dan mengaku telah menyelamatkan begitu banyak orang dari lubang kematian. Ia membawa alat suntik, dan memasukkan obat yang sangat mirip air putih ke dalam tubuh si sakit.

Bukan hanya mengobati Maq Gomboh, ia juga berkeliling mengobati tangan-tangan melepuh bekas bekerja seharian, sakit encok dan kepala, selalu dengan suntikan cairan itu.

Melihat mulut tebal hitam laki-laki itu berkomat-kamit pelan sebelum menusukkan jarumnya, para warga merasa yakin ia bukanlah laki-laki sembarangan.

Dan meski tak seorang pun benar-benar telah merasa sembuh lantaran cairan mirip air putih itu, para warga tetap membiarkan diri mereka ditusuk di berbagai titik dan merasa bangga karena rasa sakit yang dikatakan sang dokter hanya terasa seperti gigitan seekor semut.

“Tanah begitu luas habis tetap juga mati,” kata salah seorang yang sangat yakin Maq Gomboh telah mati.

Para warga setuju. Tanah laki-laki itu membentang dari satu lembah ke lembah lain. Hampir seluas kampung mereka.

Mereka yakin sakit bengkak perut seperti yang dialami Maq Gomboh tidak akan dapat disembuhkan. Sia-sia menjual tanah yang seharusnya bisa diwariskan kepada anak cucu.

Seorang warga datang tergesa-gesa dari selatan dengan wajah penuh keringat dan tampak sangat tegang. Meskipun tidak mendengar pembicaraan sebelumnya ia tiba-tiba saja berkata, “Maq Gomboh mungkin, ya.”

Anak-anak di ujung utara melihat para warga berkumpul dan langsung memutuskan untuk mendekat juga. Mereka mengganggu pembicaraan orang dewasa dengan terus-menerus menyela.

Bentakan dan dampratan terlontar semakin sering tetapi mereka tidak akan dapat dihentikan dengan cara apa pun. Mereka menguping pembicaraan dan dengan segera mendapat kesimpulan.

“Maq Gomboh mati,” kata salah seorang dan kemudian dengan segera yang lain ikut berteriak. “Maq Gomboh mati! Maq Gomboh mati!” Mereka berlari-lari seolah tengah mengabarkan kepada seluruh isi kampung.

Sepasang suami istri yang tadi tengah mengenang kampung lama mereka langsung menghentikan pembicaraan. Mereka kaget mendengar nama Maq Gomboh.

Pembicaraan serupa tentang laki-laki itu terdengar lagi. Sakit yang membuatnya bengkak dan bau busuknya yang memenuhi langit kampung. Tanahnya yang terjual pelan-pelan untuk mengobati sakitnya. Usaha sia-sianya untuk menjauh dari kematian.

“Noh, buat apa kita susah-susah. Itu Maq Gomboh habis tanahnya untuk berobat toh juga tetap mati.”

“Ya, kita perlu buat makan saja.”

“Ya, nanti juga kita akan mati. Harta ndak dibawa mati.”

Mereka saling menimpali seakan sebentar lagi akan terlibat dalam pertengkaran hebat. Sang istri turun dari berugak dan melihat ke tempat para warga berkumpul.

Sang suami ikut turun dan melihat juga ke tempat yang sama. Anak-anak berlarian, berteriak-teriak. Tadinya para warga telah berusaha menghentikan mereka. “Maq Gomboh belum mati Maq Gomboh belum mati,” lengking mereka.

Tapi tidak berguna. Anak-anak itu tidak bisa dihentikan. Semakin dilarang akan semakin menggila.
Teriakan itu terdengar oleh perempuan tua yang kini tengah duduk di pintu.

Tadinya ia tidak percaya dengan berita itu. Kepada seorang laki-laki yang lewat di depan rumahnya hendak pergi menyadap nira, ia bertanya, “Maq Gomboh mati?”

Laki-laki itu berhenti, memandang si penanya sebentar sebelum berbicara. “Ya, dia mati tadi malam,” jawabnya. Lalu pergi.

Seketika perempuan tua itu merasa lega. Ia bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi ke kebun. Seolah telah ada kesepakatan, laki-laki yang tadi mengasah parang, dan berhenti karena kabar buruk akan membuatnya luka, kini memutuskan melanjutkan lagi kerjaannya.

Bayangan Maq Gomboh terus memenuhi kepalanya ketika ia mengambil air yang baru untuk mengasah, dan sepanjang ia menggerakkan maju mundur parangnya.

Seluruh warga yang merasa telah diselamatkan dari nasib buruk kembali melanjutkan kehidupan mereka.

Tuak-tuak disiapkan dan tanah-tanah dicangkul untuk mencari gayas. Para pedagang datang dan ikan-ikan yang telah menampung telur-telur lalat beralih tangan.

Ketenangan itu hanya bertahan sehari, setelahnya rusak lagi ketika pekik gagak terdengar kembali di atas rumah-rumah para warga, terdengar sangat mendesak.

“Siapa mati lagi?” kata salah seorang, suaranya tegang.

Para warga diam di rumah mereka, tak seorang pun berani keluar. Pekik gagak semakin sering terdengar dan lama-kelamaan seperti menyampaikan pesan hanya untuk mereka.

Mereka menjadi takut untuk melakukan apa pun. Mula-mula hanya dua ekor gagak dan mengawasi mereka di dahan randu yang tumbuh menjulang di utara kampung.

Kemudian semakin banyak gagak yang muncul dan suara mereka memekik tiada henti. Seluruh warga dilanda ketakutan yang semakin menjadi-jadi.

Kematian bukan hanya dirasakan mengintip dari lubang-lubang dinding, tetapi juga terasa berdiri persis di depan hidung mereka. ***

Catatan:
Gayas: Ulat yang bersarang di tanah dan sering dimakan sebagai teman minum tuak.

Berugak:  Bangunan berupa panggung terbuka dengan empat atau enam tiang beratap berbentuk seperti lumbung.

Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali  (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...