Pelaku Usaha Kuliner Ini tak Nikmati Untung saat Mudik Lebaran

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Masa libur lebaran Idulfitri kerap jadi berkah bagi pelaku usaha kuliner. Namun suasana libur lebaran 1442 Hijriah sejak masa mudik hingga balik tidak beri keuntungan maksimal bagi pelaku usaha kuliner.

Hayatun, pedagang kuliner kerupuk kemplang, keripik dan oleh-oleh khas Lampung di pelabuhan Bakauheni menyebut ia hanya bisa mendapat keuntungan minim.

Biaya operasional sewa, biaya pembelian sebut Hayatun belum tertutupi oleh hasil penjualan. Kondisi sepinya pelaku perjalanan saat mudik hingga balik lebaran Idulfitri 1442 Hijriah berimbas pada usaha miliknya.

Dua tahun sebelumnya sektor usaha kuliner di kawasan pelabuhan menangguk untung. Namun pelarangan mudik, persyaratan ketat bebas Covid-19 menurunkan jumlah pelaku perjalanan.

Jenis kuliner kerupuk kemplang, keripik sebut Hayatun hanya terjual sekitar satu bal. Satu bal berisi sebanyak 100 kemasan kerupuk dengan harga jual rata-rata Rp10.000.

Padahal dua tahun sebelumnya ia bisa menjual sekitar 500 kemasan kerupuk, keripik saat arus mudik, balik lebaran. Ia mengaku tetap bertahan untuk bisa membayar uang sewa kios, listrik dan biaya operasional lain.

“Saya juga sembari membuka usaha kuliner makanan warung berkonsep serba sepuluh ribu, namun hanya melayani pekerja pelabuhan karena sedikit pelaku perjalanan atau penumpang kapal pada angkutan mudik dan balik lebaran tahun ini,” terang Hayatun saat ditemui Cendana News, Sabtu (22/5/2021).

Pedagang yang memanfaatkan area terminal Bakauheni itu menyebut ia bahkan kerap menutup kiosnya. Pengetatan pelaku perjalanan dari 18 Mei hingga 24 Mei sebutnya ikut berdampak pada sektor usaha kuliner.

Lihat juga...