Lebaran CDN

Pelaku Usaha Pariwisata di Lampung Terdampak Larangan Mudik

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Dua kali masa libur lebaran Idulfitri, menjadi harapan bagi sektor pariwisata di Lampung. Namun, imbas pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini membuat wisatawan dari luar daerah dibatasi.

Sabdono, penyedia jasa penyeberangan kapal wisata di dermaga Ketapang, Kabupaten Pesawaran, mengaku mengalami penurunan omzet. Normalnya, ia dan puluhan jasa penyeberangan kapal wisata bisa menangguk laba saat lebaran.

Sabdono bilang, pada 2020 ia hanya menyeberangkan belasan wisatawan per hari. Menurunnya jumlah wisatawan yang akan berwisata ke pulau Pahawang dipengaruhi masa pandemi Covid-19. Pada tahun ini, mengacu pada aturan Satgas Penanganan Covid-19 selama masa larangan mudik lebaran 6-17 Mei 2021, masyarakat hanya diperbolehkan berwisata di daerah domisili.

Harapan untuk mendapat nilai tambah ekonomi dari jasa wisata pada lebaran tahun ini, pun pupus. Namun, ia memaklumi kondisi pandemi global Covid-19 yang belum mereda. Meski demikian, kegiatan wisata diperbolehkan selama masa larangan mudik. Standar protokol kesehatan, pembatasan jumlah pengunjung tetap diterapkan pelaku usaha pariwisata.

Kondektur bus pariwisata, Wardiono, menunggu penumpang di dermaga eksekutif Bakauheni, Lampung Selatan, Minggu (2/5/ 2021). -Foto: Henk Widi

“Pelaku usaha jasa penyeberangan yang semula mengandalkan pemasukan ekonomi dari mengantar wisatawan ke pulau Pahawang dengan sistem paket perjalanan wisata, kini terpukul. Sejumlah kerja sama dengan pelaku tour and travel, homestay terhenti selama masa pandemi,” terang Sabdono, saat ditemui Cendana News, Minggu (2/5/2021).

Sabdono menambahkan, destinasi wisata di wilayah Kabupaten Pesawaran didominasi wisata alam. Kebijakan mudik yang dilakukan pemerintah melalui larangan mudik Idulfitri pada 6-17 Mei 2021, berdampak bagi usaha pariwisata.

Meski pelaku usaha telah mengikuti standar pariwisata berbasis Cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan) dan sustainable environment (lingkungan berkelanjutan), jumlah pengunjung menurun.

Normalnya, untuk satu perahu wisata dengan jumlah 20 orang ia mematok tarif Rp500ribu hingga Rp700ribu. Sebagai upaya menarik wisatawan lokal, ia melakukan diskon harga. Ia memprediksi, sejumlah wisatawan lokal asal kabupaten Pesawaran masih akan menjadikan sejumlah pantai sebagai destinasi alternatif.

“Saat lebaran hari pertama, biasanya akan mengunjungi keluarga dan hari ke dua ke objek wisata pantai,” bebernya.

Wardiono, salah satu kondektur bus pariwisata trayek Bakauheni-Bandarlampung, menyebut pandemi pukul jasa transportasi. Ia mengaku tidak menyalahkan keadaan, karena pemerintah bertujuan positif menekan laju pandemi Covid-19. Normalnya, sepekan jelang lebaran volume penumpang bus selalu penuh. Sebagian merupakan penumpang mudik dan wisatawan.

“Dua tahun terakhir, kapasitas kursi bus dari 35 kursi hanya terisi maksimal 20 kursi dan harus menunggu dua trip kapal,” bebernya.

Sebanyak puluhan bus di terminal esksekutif, reguler mengalami kerugian. Biaya operasional bahan bakar, pekerja tidak sebanding dengan pendapatan. Pelaku usaha bus juga tidak mendapat penumpang untuk paket perjalanan wisata. Normalnya, paket wisata ke pulau Pahawang dan sekitarnya menjadi pilihan kala mudik lebaran.

Suwito, penjaga tiket di objek wisata Menara Siger, Bakauheni, bilang dominan pengunjung warga lokal. Sebelumnya saat musim arus mudik lebaran, kunjungan bisa mencapai ribuan orang. Pemudik yang akan menuju ke Jawa melalui pelabuhan Bakauheni dan sebaliknya kerap mampir ke Menara Siger. Berfungsinya Jalan Tol Trans Sumatra yang akan mendongkrak wisata ikut terhambat pandemi.

Ia melanjutkan, wisatawan lokal didominasi warga yang melakukan ngabuburit. Menjelang waktu berbuka puasa atau ngabuburit, Menara Siger menjadi destinasi favorit. Namun, pengunjung asal Palembang, Jakarta dan luar wilayah berkurang. Dampak bagi omzet pemasukan tiket mengalami penurunan hingga 80 persen.

Lihat juga...