Peleburan Empat Lembaga Diharapkan Berdampak Positif pada Riset

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Resminya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 33 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang akan melebur empat lembaga penelitian dalam satu komando, yang salah satunya adalah BATAN, diharapkan mampu memberikan dampak positif pada pelaku riset dan hilirisasi hasil, terutama di bidang iptek nuklir.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Anhar Riza Antariksawan menyatakan tujuan pengaturan BRIN sangat bagus.

“Karena akan menyinergikan dan mengarahkan semua kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap) serta invensi dan inovasi yang dilaksanakan oleh berbagai pelaksana litbangjirap secara terintegrasi,” kata Anhar saat dihubungi, Kamis (6/5/2021).

Ia mengharapkan hasil litbangjirap yang komprehensif akan dapat menjadi landasan ilmiah penetapan kebijakan pembangunan nasional serta pengungkit untuk pembangunan ekonomi.

“Iptek nuklir juga berkaitan dengan berbagai bidang iptek. Sehingga dengan sinergi yang lebih baik yang akan dilakukan di bawah BRIN, maka diharapkan kontribusi iptek nuklir pada pembangunan ekonomi dapat meningkat,” ucapnya.

Secara terpisah, Peneliti Senior BATAN Geni Rina Sunaryo mengharapkan agar BRIN dapat memahami akar permasalahan dari dunia riset.

“Sadar atau tidak sadar, dunia riset negeri ini sangat sulit untuk berperan menjadikan Indonesia menjadi lebih bermartabat, yang bangga terhadap produk sendiri. Selain dianggap tidak ekonomis, yang paling utama adalah pola pikir pelaku ekonomi yang masih berpikir jangka pendek, tidak visioner,” ujarnya.

Tanpa berpijak pada tantangan ini, Geni menyebutkan akan mustahil membawa Indonesia ke tahap penghasil teknologi.

“BRIN harus bergerak dengan ritme yang berbeda. Periset Indonesia itu unggul dan punya semangat membangun negeri. Berikan arah yang jelas harus buat apa dalam menjawab tantangan negeri untuk menyejahterakan masyarakat. Jangan hanya dituding tidak berprestasi. Karena para periset memang tidak mampu menghadapi kompetisi keras di hilirisasi yang sangat mematikan motivasi riset,” ujarnya tegas.

Ia mencontohkan pada kasus Iradiator sinar-gamma yang berguna untuk pengawetan produk, sterilisasi dan lainnya, juga Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang berteknologi tinggi, dimana Indonesia dapat menjadi negara produsen Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) paling aman dan selamat di masa mendatang.

RDE berhasil mendapatkan lisensi tapak dan desainnya masuk dalam booklet International Atomic Energy Agency (IAEA) tahun 2020 yang menjadi raihan pertama kali setelah lebih dari 60 tahun kiprah nuklir di negeri ini.

Pengalaman mencapai dua target tersebut telah membuka mata bahwa sumber daya manusia (SDM) kita mampu dan bisa bekerja sama dengan baik. Juga badan regulasi mampu menjamin keselamatan operasinya, dengan memberikan izin pembangunan hingga operasi untuk iradiator sinar-gamma.

“Tapi kiat peningkatan kemampuan anak negeri dalam menegakkan kepala terkait kiprah RDE dipaksa berhenti dengan alasan yang sangat diyakini adalah politis dagang. Begitu juga dengan desain pembangkit tenaga uap, harus menyendiri dan mangkrak setelah dinyatakan harga produksi listriknya masih lebih mahal dari yang sudah beroperasi saat ini. Tidak bisa protes, karena tidak akan pernah ada yang mendengar,” paparnya.

Geni menyatakan Indonesia sudah sangat terpuruk dalam dunia riset dan inovasinya, yang merembet ke industri juga.

“Karena terlalu rumit kompromi politisnya. Kurang mengakarnya rasa cinta Tanah Air. Bisa disebut sebagai kurang Pancasila-is. Sehingga tekanan politis baik dalam negeri maupun luar negeri dengan mudah menggetarkan niat luhur membangun negeri, justru malah menguburkan hasil riset sebagai cikal bakal industri nasional dalam-dalam,” ungkapnya

Tapi, ia menyebutkan tak ada kata terlambat jika semua pihak bisa memahami kendala pada dunia riset ini.

“Tantangan dunia riset inilah yang harus menjadi terobosan bagi yang didapuk sebagai nahkoda BRIN. Memberikan arah yang jelas, yang sudah lama terkubur di negeri tercinta. Optimislah dengan kemampuan anak negeri. Jadikan produk riset menjadi inovasi anak negeri yang dapat menyejahterakan bangsa,” pungkas ahli kimia reaktor alumnus Tokyo University ini.

Lihat juga...