Lebaran CDN

Pembudidaya Minim, Pelaku Usaha Masih Impor Kaktus Hias Asal Thailand

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Tingginya permintaan konsumen, serta masih minimnya jumlah pembudidaya lokal, membuat sejumlah pelaku usaha tanaman kaktus hias di Yogyakarta terpaksa harus mendatangkan tanaman mungil nan cantik itu dari negara lain seperti Thailand.

Hal itu menjadi ironi tersendiri, mengingat tanaman kaktus sebenarnya sangat mudah untuk dipelihara dan dibudidayakan.

“Meski sudah mulai meningkat setahun terakhir, jumlah pembudidaya kaktus di Indonesia hingga saat ini masih belum mampu mencukupi pasar yang ada. Sehingga tak sedikit pelaku usaha harus impor kaktus dari Thailand,” ujar seorang pembudidaya sekaligus pelaku usaha kaktus, Joko Setiyono (31) asal Tayuban, Pengasih, Kulonprogo, Selasa (04/05/2021).

Selain belum banyak petani yang melirik budidaya kaktus sebagai alternatif usaha yang menguntungkan, lamanya proses pertumbuhan tanaman gurun asal Amerika itu juga menjadi faktor lain yang membuat pasar kaktus belum terpenuhi hingga saat ini.

“Padahal kalau kita impor kaktus dari Thailand itu kualitasnya tidak lebih baik dari hasil budidaya lokal. Sementara harga beli kaktus impor juga tidak stabil karena masih sangat ditentukan oleh broker,” bebernya.

Melihat fakta tersebut, Joko sendiri menilai peluang usaha budidaya kaktus hingga saat ini masih sangat terbuka luas. Ia pun berharap agar ke depan semakin banyak masyarakat khususnya petani yang mau membudidayakan kaktus sebagai pilihan usaha di sektor pertanian.

“Peluang budidaya kaktus, menguntungkan karena perawatan dan pembudidayannya sangat mudah. Resikonya sangat minim. Sementara keuntungan yang didapat bisa 2 kali lipat dari modal. Tempat yang dibutuhkan juga tidak terlalu luas, sehingga bisa dilakukan siapa saja,” katanya.

Joko sendiri merupakan salah satu dari sedikit pembudidaya kaktus skala besar yang ada di Yogyakarta. Setiap bulan, rata-rata ia mampu menjual tanaman kaktus hingga mencapai 2.000 pcs dengan omset Rp50juta lebih. Ia bersama sejumlah rekan pembudidaya lainnya terpaksa harus mengimpor kaktus asal Thailand setiap beberapa bulan sekali karena tak mampu memenuhi pasar yang ada.

Lihat juga...