Pendamping Desa di Sikka Kesulitan Jaringan Internet

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Lima desa di Kecamatan Mego,Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yakni Desa Napu Gera, Kowi, Parabubu, Wolo dan Gera, masih belum bisa dijangkau sinyal telepon genggam.

“Kami sebagai pendamping desa yang bertugas di wilayah tersebut sangat kesulitan ketika bekerja menggunakan internet,” kata Ancis Kawayu, Pendamping Desa Napu Gera, saat ditemui Cendana News, Jumat (7/5/2021).

Ancis menyebutkan, saat ini pihaknya bersama perangkat desa sedang melaksanakan pendataan Sustainable Development Goals (SDGs) desa tahun 2021, dan pendataannya melalui sistim online.

Ia mengatakan, ketika semua data yang ditulis secara manual hendak di-input ke dalam sistem, maka pihaknya pun kesulitan sehingga harus menggunakan sepeda motor mencari wilayah yang memiliki jaringan internet.

Pendamping Desa Parabubu, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, NTT, Ancis Karwayu, saat ditemui di Desa Parabubu, Jumat (7/5/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Saya bersama perangkat desa harus menggunakan sepeda motor dan berjalan mencari sinyal ke desa-desa yang lain yang ada jaringan sinyal telepon selular,” ujarnya.

Ancis mengatakan, jaringan internet dari Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi (Bakti) hanya puskemas di ibukota kecamatan saja, sementara desa-desa sendiri belum memiliki jaringan internet.

Padahal, kata dia, saat pandemi Covid-19 membuat pembelajaran di sekolah harus dilakukan secara daring. Sementara pemerintah desa juga harus meng-input data dan melaporkan secara online.

“Semua pelaporan dari desa harus dilakukan secara online, sehingga aparat desa pun harus mencari wilayah yang ada sinyal telepon selular, baru bisa mengirimkannya. Komunikasi kami dengan aparat desa pun sangat kesulitan,” ungkapnya.

Ancis berharap, agar pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika memperhatikan desa-desa di Kabupaten Sikka yang belum memiliki jaringan internet, agar bisa segera dibangun.

Warga Desa Gera, Lukas Lura, juga mengakui jaringan sinyal telepon selular di sebagian wilayah desanya tidak ada, sehingga terkadang aparat desa pun harus mencari wilayah yang ada sinyal telepon.

Lukas menambahkan,b utuh perjuangan untuk menuju ke wilayah yang ada sinyal atau ke jalan negara trans Flores yang berjarak sekitar 7 kilometer dari kantor desa.

“Dulu saat masih di perangkat desa, kami harus menuju jalan negara Trans Flores sejauh 7 kilometer dari kantor desa agar bisa mengirimkan laporan secara online. Sinyal di desa kami kadang ada kadang hilang, karena memang belum ada Base Transceiver Station (BTS),” tuturnya.

Lihat juga...