Pendidikan Harus Berakar Kuat pada Nilai Agama dan Budaya

Editor: Koko Triarko

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional,  Sudarnoto Abdul Hakim, pada konferensi pers MUI yang digelar virtual di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Selasa (16/3/2021). –Dok: CDN

JAKARTA – Pengamat pendidikan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sudarnoto Abdul Hakim, menegaskan pendidikan yang seharusnya dikembangkan oleh bangsa Indonesia, adalah yang berdasarkan falsafah bangsa, yaitu Pancasila. 

“Falsafah ini  menyangkut penguatan watak, karakter, dan kepribadian manusia Indonesia. Pendidikan juga harus berakar kuat kepada nilai-nilai agama dan budaya bangsa,” kata Sudarnoto, kepada Cendana News saat dihubungi, Kamis (20/5/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa filsafat liberalisme, sekularisme dan pragmatisme yang sudah mulai terasa berpengaruh di dunia pendidikan, tidaklah cocok dengan kebutuhan pengembangan pendidikan untuk menyiapkan dan membangun Indonesia ke depan lebih maju.

“Maka itu, renaissance pendidikan Indonesia yang baru sangat dibutuhkan, sekaligus juga mengkoreksi Penyusunan Peta Jalan Pendidikan Nasional ( PJPN) 2020-2035 yang tengah disusun Kementerian Pendidikan (Kemendikbud), agar tidak salah arah,” ungkapnya.

Menurutnya lagi, gagasan tersebut bukan sekadar memberikan ruang untuk membangun dan memperkokoh basis kultural atau budaya pendidikan Indonesia.

Namun, juga menempatkan sains dan teknologi sebagai instrumen penting untuk membangun kemaslahatan dan kerahmatan bagi kehidupan manusia yang hakiki.

Dia menilai, sain dan teknologi bukan alat untuk eksploitasi yang justru akan merusak masyarakat, lingkungan dan peradaban dunia pendidikan. Bahkan, di tengah pandemi Covid-19 ini home schooling atau belajar di rumah dengan dibantu oleh perangkat teknologi yang memadai, menjadi sangat penting.

Konsep belajar di rumah juga memerlukan peran orang tua dan keluarga dalam memperkokoh pendidikan secara genuine atau keaslian.

Karena konsep pendidikan ini dapat mememperkokoh nilai keluhuran dan memperteguh ruh dan jiwa dalam pendidikan. Tentu dengan diimbangi mengembangkan life skill, sains dan teknologi.

“Nilai-nilai seperti inilah yang harus ditransfer ke lembaga pendidikan formal,” tukas Sudarnoto Abdul Hakim, yang juga menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama International.

Dia menegaskan, bahwa momentum belajar di rumah dapat dijadikan sebagai milestone untuk membangun dan memperkuat budaya baru pendidikan yang berbasis keluhuran nilai dan kekuatan sains teknologi. Dan, rumah menempati posisi strategis dalam memperkokoh budaya tersebut.

Dia berharap, budaya baru pendidikan ini dapat mendorong orang tua dan para guru serta dosen untuk berperan sebagai aktor pendidik atau uswatun hasanah, yang dapat membentuk watak dan sumber inspirasi kemajuan pendidikan anak.

Diharapkan pula, budaya baru ini dapat mendorong para aktor pendidik untuk lebih kreatif, inovatif, dan produktif. Sehingga mereka dapat berselancar untuk memperlebar perspektif dan jaringan pengembangan pendidikan yang lebih baik.

“Terbebas dari belenggu budaya birokrasi yang menghantui,” tukasnya.

Ke depan, menurutnya anak-anak Indonesia tidak boleh mendapatkan ketidakpastian sistem pendidikan. Maka itu, Sudarnoto mengimbau pemerintah untuk melindungi mereka agar tetap memperoleh hak pendidikan secara merdeka.

“Jadi, janganlah kita biarkan anak-anak Indonesia kehilangan kedaulatan pendidikan yang berbasis agama, Pancasila dan budaya  bangsa,” pungkasnya.

Lihat juga...