Pengamat Pertanian Nilai Implementasi SRG Belum Optimal 

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pengamat pertanian dari Universitas Lampung (UNILA), Bustanul Arifin menilai implementasi Sistem Resi Gudang (SRG) belum optimal. Padahal jika dikelola dengan baik, SRG ini dapat menopang perekonomian nasional. 

“Secara konsep SRG sangat bagus, tidak hanya dapat meningkatkan sektor pertanian, tapi juga berdampak positif pada sektor pergudangan,” ujar Bustanul, saat dihubungi Cendana News, Senin (31/5/2021).

Bahkan menurutnya, SRG menjadi insentif bagi tumbuhnya industri pergudangan dan usaha lain terkait sistem resi gudang. Utamanya, dalam pengendalian stok pangan nasional, komoditas dan instrumen penyaluran kredit bagi perbankan dan alternatif pembiayaan sektor pertanian.

Dalam catatannya, hingga April 2021 ada 123 gudang SRG yang dibangun Kementerian Perdagangan, dan tersebar di 25 provinsi dan 105 kabupaten/kota.

Sejauh ini SRG paling banyak mentransaksikan komoditi gabah, kopi, dan beras.  Dan tercatat dalam tiga tahun ini, yaitu tahun 2018-2020, untuk komoditi gabah dari 3.047 resi.

“Itu terdapat volume gabah mencapai 89.546,78 ton atau senilai Rp483,02 miliar, dengan pembiayaan mencapai Rp282,42 miliar,” ungkapnya.

Selanjutnya kopi, dengan volume 2.433,63 ton dari 148 resi dengan nilai Rp156,75 miliar atau untuk pembiayaan mencapai 98,10 miliar.

Disusul beras, yakni dengan resi 318, jumlah beras yang disimpan sebanyak 15.690,39 ton dengan nilai setara Rp136,76 miliar dengan pembiayaan sebesar Rp73,96 miliar.

Agar SRG berjalan efektif, menurutnya, diperlukan dukungan  pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Selain itu, juga sarana dan prasarana gudang SRG yang memadai, SDM pengelola gudang yang kompeten dan mandiri, akses lembaga uji mutu produk, serta akses perbankan dan lembaga keuangan.

“Terpenting harus ada  lembaga penjamin SRG,  kepastian pembeli, dan ekspektasi pendapatan bagi pemilik dan pembeli,” ujar Bustanul Arifin yang merupakan ekonom senior INDEF.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas Santoso mengatakan, selama ini SRG hanya dimanfaatkan oleh petani-petani padi dengan skala usaha besar dan  pengepul.

“Sebagian SRG dimanfaatkan oleh tuan tanah yang memiliki sawah berhektare-hektare. Kalau petani kecil itu enggan manfaatin SRG, karena banyak persyaratan,” ujar Dwi, saat dihubungi Cendana News.

Menurutnya, persyaratan SRG yang  menyulitkan para petani kecil itu,  seperti melengkapi dokumen dan standar kualitas produk.

“Belum lagi terkait biaya pembuatan dokumen dan jarak lokasi panen ke gudang yang sangat jauh,” ujar Dwi Andreas Santoso, yang merupakan akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB).

Lihat juga...