Penggunaan Bambu Tekan Biaya Budi Daya Rumput Laut dan Kerang Hijau

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah nelayan di Lampung Selatan, menyiasati besarnya biaya pembuatan tonggak cor semen dalam budi daya rumput laut dan kerang hijau, dengan menggunakan bambu.

Amran Hadi, ketua kelompok nelayan Sinar Semendo, menyebut bambu memiliki daya tahan yang lama saat terkena air laut. Ia dan nelayan yang membudidayakan kerang hijau, rumput laut memanfaatkan bambu untuk tonggak budi daya kerang hijau. Pasokan bambu diperoleh dari kebun milik nelayan, sebagian dibeli dari petani. Bambu hitam dibeli dengan harga mulai Rp2.000 hingga Rp3.000 per batang.

Penggunaan bambu juga lebih efesien dibandingkan dengan beton semen, besi. Kombinasi tiang bambu, ban bekas menjadi media budi daya kerang hijau. Penggunaan tiang pancang bambu juga dimanfaatkan untuk tonggak budi daya rumput laut.

Estimasi penghematan daripada memakai tonggak cor beton mencapai selisih jutaan rupiah. Sebab, biaya satu juta rupiah hanya mampu membuat beton cor puluhan batang.

“Jika memakai tonggak bambu, dengan biaya yang sama bisa diperoleh ratusan tonggak dengan efesiensi biaya yang lebih murah, namun memiliki tingkat keawetan yang lama, pengaplikasian pada perairan berlumpur dengan sistem penancapan,” ungkap Amran Hadi, saat ditemui Cendana News, Senin (24/5/2021).

Pemanfaatan batang bambu sebut Amran Hadi telah memberikan keuntungan ekonomis. Semula bambu hanya digunakan sebagai bahan bangunan, namun oleh nelayan menjadi sarana produksi.

Memiliki  7.000 tonggak bambu, ia menerapkan sistem petak. Sistem petak untuk memisahkan masa budi daya yang bisa dipanen lebih awal. Kerang hijau bisa dipanen memasuki usia 6 hingga 8 bulan.

Satu batang bambu ukuran 6 meter bisa dipotong menjadi dua. Selain digunanakan untuk budi daya kerang hijau bambu digunakan untuk budi daya rumput laut. Tonggak bambu juga menggantikan sistem rakit apung dari drum yang mudah terbawa ombak. Satu hamparan area budi daya rumput hijau bisa mencapai luasan satu hektare.

“Nelayan budi daya dan tangkap mencoba alternatif media tanam yang efesien, meski murah, namun menghasilkan,” sebutnya.

Satu hamparan budi daya kerang hijau yang bisa dipanen bertahap memberi profit menjanjikan. Sekali panen, Amran Hadi bisa mengangkat sekitar lima kuintal kerang hijau. Per kilogram kerang hijau dijual di level pengecer seharga Rp10.000. Sementara jenis rumput laut bisa dijual Rp10.000 per kilogram dalam kondisi kering. Semua produk tersebut diperoleh dengan pemanfaatan bambu.

Biaya operasional yang bisa ditekan juga diakui Slamet, pemilik budi daya rumput laut dan nelayan tangkap. Sistem bubu kawat, bubu tancap, jaring hingga pancing rawe dasar memanfaatkan bambu. Jenis bambu hitam kerap menjadi pilihan untuk menjaga keawetan sekaligus lebih murah.  Bubu kawat yang diperkuat dengan bambu menjadi alat penangkap ikan kerapu, lobster dan ikan sembilang.

Penggunaan bambu jadi bahan penguat bubu kawat dan tempat penjemuran rumput laut milik Slamet di pesisisr Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, pada area budi daya kerang hijau, Senin (24/5/2021). -Foto: Henk Widi

“Bubu kawat diikatkan pada tonggak bambu, sehingga bisa diangkat saat mendapat hasil tangkapan ikan,” ulasnya.

Penggunaan bambu juga menjadi sarana pembatas pada area penyortiran.

Warsini, salah satu penyortir dan pengupas kerang hijau mengaku bambu dipakai untuk pemukul kerang yang direbus. Sejumlah kaum wanita menjadi buruh kupas setelah cangkang direbus. Setiap kilogram kerang kupas, ia dan wanita lainnya mendapat upah Rp5.000 per kilogram. Kerang hijau yang dikupas dijual seharga Rp20.000 per kilogram.

Bambu, sebut Warsini, digunakan sebagai tenggok wadah kerang. Pada proses pencarian kerang hijau, wadah tersebut menjadi alat penampung sementara.

Selain itu, penggunaan bambu juga digunakan untuk alat pengeringan rumput laut. Alat penjemuran dari bambu menggantikan alat penjemuran plastik. Penggunaan bambu dalam rantai budi daya kerang hijau, rumput hijau hingga pascapanen, menjadikan biaya operasional bisa ditekan.

Lihat juga...