Pengrajin Anyaman Bambu Bantul Mulai Bergeser Gunakan Plastik

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Sejak puluhan tahun silam, Desa Trimurti, Srandakan Bantul, dikenal masyarakat Yogyakarta sebagai salah satu daerah penghasil produk anyaman bambu. 

Berbagai produk anyaman dihasilkan para pengrajin rumahan mulai dari keranjang pengangkut sepeda motor atau biasa disebut bronjong/kronjotlLoper/krondo, hingga keranjang sampah, dinding gedek, maupun produk anyaman lainnya.

Namun kini, seiring kemajuan zaman, imej tersebut telah mulai bergeser. Di era tahun 2008an, produk anyaman dari bahan plastik mulai banyak dikenal, menyebar hingga perlahan mampu menggantikan produk anyaman dari bahan bambu.

Selain dianggap lebih kuat dan tahan lama, produk anyaman dari bahan plastik ini juga dinilai lebih praktis dari sisi pengerjaan. Sehingga tak sedikit pengrajin di kawasan ini pun mulai beralih menggunakan bahan plastik dibandingkan bambu dalam membuat anyaman. Meskipun bahan plastik memiliki kekurangan tidak ramah lingkungan.

“Saya termasuk yang pertama kali mengenalkan produk anyaman dari bahan limbah plastik ini. Karena dulu sekitar tahun 2008 belum ada yang memanfaatkan limbah plastik untuk membuat produk anyaman,” ujar seorang pengrajin Sugiyat (49) asal Dusun Pandak Nengahan Trimurti Srandakan.

Seorang pengrajin anyaman dari bahan limbah plastik, Sugiyat (49) asal Dusun Pandak Nengahan Trimurti Srandakan, Selasa (25/5/2021). -Foto Jatmika H. Kusmargana

Sebelum memproduksi produk anyaman dari bahan plastik, Sugiat merupakan seorang pengrajin anyaman bambu. Kemampuan menganyam ia dapatkan dari ayahnya yang juga merupakan seorang pengrajin bambu asal Desa Trimurti Srandakan.

“Saat itu saya menganggap bambu kurang praktis untuk dibuat bahan anyaman. Karena harus disisik terlebih dahulu. Setelah jadi juga harus dicat. Sehingga proses pengerjaannya membutuhkan waktu lama. Dari situlah saya lalu punya ide untuk memanfaatkan limbah plastik dari bekas tali barang-barang ekspor,” kata lelaki yang juga memiliki 4 saudara sebagai pengrajin anyaman ini.

Kini hampir semua pengrajin di kawasan Desa Trimurti telah memanfaatkan bahan plastik untuk membuat produk anyaman. Produknya pun semakin beragam, tidak hanya berupa keranjang barang saja, namun juga pot bunga, tas, hingga plafon, dan sebagainya.

“Sampai sekarang saya masih menganyam dengan dibantu 3 orang karyawan. Dalam satu hari total biasanya bisa menghasilkan 3-4 krondo berbahan plastik. Untuk krondo berbahan bambu sesekali juga masih membuat, namun jika ada pesanan saja,” katanya.

Dari berbagai macam produk yang diproduksi, keranjang pengangkut sepeda motor atau krondo memang paling laris dipasaran. Hal ini tak lepas karena di kawasan ini masih banyak warga yang berprofesi sebagai petani maupun pedagang. Sehingga krondo dibutuhkan untuk mengangkut hasil panen ataupun barang dagangan.

“Satu buah krondo biasa saya jual Rp110-140ribu tergantung besarnya ukuran. Sedangkan untuk kranjang angkut biasa saya jual Rp35-65ribu, Pot Rp12-20ribu. Tas Rp25-35ribu. Sementara anyaman lembaran untuk dinding atau plafon saya jual Rp85 per meter,” katanya.

Selain menjual langsung di rumahnya, Sugiat juga rutin menyetorkan produk anyaman buatannya ke sejumlah warung maupun toko perlengkapan alat rumah tangga. Produk buatannya pun juga telah mencapai sejumlah wilayah mulai dari Bantul, Kulon Progo hingga Purworejo.

“Kendalanya sekarang itu sulit sekali mencari tenaga untuk menganyam. Karena butuh ketekunan dan ketlatenan. Kalaupun ada hanya sedikit yang mau. Sehingga kadang jika ada pesanan kita butuh waktu lebih lama untuk memenuhinya,” pungkasnya.

Lihat juga...