Pentingnya Penelitian Multidisiplin untuk Sikapi Keputusan Jepang terkait Radionuklida

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Sebagai pengkonsumsi ikan laut, tentunya segala aspek yang berpotensi mempengaruhi kondisi perairan perlu disikapi dengan tindakan berbasis data dan penelitian. Termasuk, pernyataan negara Jepang beberapa waktu lalu, yang akan mengalirkan treated water-nya ke laut.

Ahli Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) Widodo Setiyo Pranowo – Foto Dokumentasi Ranny Supusepa

Ahli Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) Widodo Setiyo Pranowo menyatakan perlu dilakukan penelitian secara multidisiplin keilmuan dan komprehensif terkait dugaan terbawanya radionuklida dari perairan Jepang ke Indonesia.

“Penelitian seperti ini memang bukanlah penelitian yang menghasilkan suatu invensi atau inovasi produk yang berwujud fisik, namun data dan informasi yang dihasilkan akan menjamin keberlangsungan hidup dan kesehatan masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi ikan,” kata Widodo saat dihubungi, Rabu (12/5/2021).

Ia menekankan bahwa penelitian harus dilakukan karena ‘Worst Case Scenario’ yaitu terjadi kontaminasi kolom air, bisa saja terjadi.

“Cara untuk menelitinya ya tentu dengan metode penelitian dari sisi oseanografi terapan. Yaitu dengan mencocokkan karakteristik (fingerprint) massa air Laut Jepang dengan karakter atau fingerprint massa air di sepanjang laut yang dilewati oleh aliran Arlindo,” urainya.

Caranya, sampel massa air laut diambil dari berbagai kedalaman, kemudian dianalisis suhu laut dan salinitasnya.

“Suhu dan salinitas secara spesifik adalah penyusun utama karakter atau fingerprint dari massa air laut. Ketika ada karakter massa air laut Jepang teridentifikasi di sepanjang laut yang dilewati oleh Arlindo tersebut, maka ada probabilitas limbah nuklir di Laut Jepang terbawa oleh massa air laut menuju ke Lautan Indonesia,” urainya lebih lanjut.

Lihat juga...