Peran Dokter Keluarga Penting dalam Penanganan Obesitas

Editor: Koko Triarko

MALANG – Obesitas merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan akan meningkatkan beban ekonomi bagi masyarakat yang cukup besar.

Berdasarkan survei Riset Kesehatan Dasar (RKD/Riskesdas), menunjukkan setiap tahun terjadi peningkatan prevalensi obesitas dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 14,8 persen pada 2013, dan menjadi 21,8 persen di 2018. Obesitas sentral juga mengalami peningkatan cukup tinggi dari 18,8 persen pada 2007, 26,6 persen pada 2013, dan menjadi 31 persen pada 2018.

Karenanya, menurut Prof. Dr.dr. Sri Andarini, M.Kes., yang mendalami bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), peran dokter keluarga sangat penting untuk menangani masalah obesitas.

“Penyelesaian masalah obesitas sebenarnya dapat dilakukan dengan pendekatan kedokteran keluarga, melalui prinsip-prinsip holistik komprehensif, bersinambung, koordinasi dan kolaborasi,” ucapnya dalam konferensi pers pengukuhan profesor di gedung Widyaloka UB, Jumat (7/5/2021).

Menurutnya, seorang dokter keluarga yang memiliki peran di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama harus memiliki prinsip holistik, artinya mampu menyelesaikan masalah. Tidak hanya ditinjau dari faktor biologi, tapi juga ditinjau dari demensi psikologis, sosial, lingkungan serta berorientasi pada keluarga dan komunitasnya.

“Jadi, untuk tatalaksana obesitas ini tidak hanya dilihat dari aspek biologinya seperti dari genetik, hormonal, atau pola makan saja, tetapi yang di lingkungan keluarga juga harus diperhatikan. Dari aspek psikologi juga iya, karena orang stres biasanya cenderung akan banyak makan sehingga terjadi obesitas. Termasuk kemudahan-kemudahan akibat makin berkembangnya teknologi membuat orang tidak banyak bergerak yang juga bisa menjadikan obesitas,” sebutnya.

Di samping itu, seorang dokter keluarga dalam menyelesaikan masalah obesitas harus mampu berkolaborasi dan berkoordinasi dengan profesi lain. Misalkan ada pasien obesitas dengan luka di kaki, maka dokter keluarga harus berkolabirasi dengan perawat. Kemudian kalau ada komplikasi lain, misalnya terkait gizi, maka dia harus berkoordinasi dengan ahli gizi.

Kemudian prisip bersinambung, di mana dokter keluarga harus melayani pasien obesitas tidak hanya fase preakut, tapi juga pada saat fase akut. Saat pasien ada di rumah sakit, dia juga harus mengawal.

“Saat pasien sudah keluar dari rumah sakit, dokter keluarga juga harus mengawal lagi supaya pasien tersebut tidak kembali mengalami obesitas,” tuturnya.

Cara menangani penderita obesitas juga harus melibatkan keluarganya, tidak bisa berdiri sendiri. Karena keluarga oleh dokter dianggap sebagai mitra dari dokter.

“Karena itu, guna memaksimalkan peran dokter keluarga perlu dibuat modul-modul penatalaksanaan obesitas menggunakan pendekatan kedokteran keluarga, yang bertujuan untuk memudahkan dokter, penderita obesitas dan masyarakat memahami dan melaksanakan program intervensi obesitas,” pungkasnya.

Sementara itu staff humas UB, Oky, menyebutkan, bahwa Prof. Andarini merupakan profesor aktif ke 17 dari FKUB dan profesor aktif ke 196 di UB, serta menjadi profesor ke 280 dari keseluruhan profesor yang dihasilkan UB.

“Beliau besok akan dikukuhkan sebagai profesor bersamaan dengan Prof. Ir. Puguh Surjowardojo, MP., dari Fakultas Peternakan UB,” tutupnya.

Lihat juga...