Perempuan Kawalelo Flotim Mengais Rezeki dari Ikan Tangkapan Suami

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA –  Para perempuan Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mengais rezeki dengan menjual ikan saban hari di pinggir jalan negara Trans Flores, Larantuka-Maumere.

“Kalau suami melaut dan dapat ikan, kami menjualnya di pinggir jalan,” kata Yuliana Nogo Lasar, Warga Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupafen Flores Timur, saat ditemui di tempat berjualannya di pinggir jalan negara Trans Flores Larantuka-Maumere, Rabu (12/5/2021).

Yuliana menyebutkan, saat umpan tersedia dan cuaca memungkinkan, suaminya memancing dengan menggunakan sampan dan tali pancing di perairan depan wilayah desanya.

Warga Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT, Yuliana Nogo Lasar, saat ditemui di jalan negara Trans Flores Larantuka-Maumere, Rabu (12/5/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Ia mengaku jumlah ikan yang dijual dan jenisnya tergantung dari hasil tangkapan sang suami, termasuk harga jual pun disesuaikan dengan jenis ikan dan ukurannya.

Disebutkannya, biasanya ikan yang dijual merupakan ikan karang dan didominasi jenis ikan kerapu dengan ukuran beragam dan harga jualnya pun pasti lebih mahal.

“Tadi pagi saya membawa 12 ikat ikan kerapu merah dengan ukuran selebar 4 jari orang dewasa. Satu ikat berisi 3 ekor, saya jual seharga Rp25 ribu,” ujarnya.

Saat ditemui sekitar pukul 11.00 WITA, Yuliana mengaku ikannya tersisa 5 ikat dan ia mengatakan tetap berjualan hingga siang atau sore, setelah ikannya habis terjual baru kembali ke rumah.

Menurutnya sejak pandemi Corona, pembeli sepi dan biasanya ikan yang dijual  baru habis menjelang siang atau sore hari, karena pengendara berkurang drastis. Apalagi, ada penutupan perbatasan sehingga pemudik tidak ada.

“Banyak juga pengendara yang menepi dan membeli ikan kami. Kalau tidak ada pandemi Corona, sebelum siang hari ikan sudah habis terjual karena banyak pengendara yang lewat,” ucapnya.

Perempuan penjual ikan lainnya dari Desa Kawalelo, Agnes Barkola, mengaku hanya menjual 9 ikat ikan jenis kerapu dan ikan karang, di mana hingga pukul 11.WITA hanya tersisa 2 ikat saja.

Agnes mengaku bila hasil tangkapan suami tersedia, dirinya pun berjualan ikan di pinggir jalan negara meskipun harus  berjalan kaki sekitar satu kilometer dari desanya.

“Kalau jual di jalan negara lebih cepat laku daripada harus berjualan di desa. Kalau warga yang mempunyai sepeda motor lebih suka menjualnya ke Kota Larantuka, karena harga jualnya lebih mahal,” ucapnya.

Meski pendapatan yang diperoleh terbatas, Agnes mengaku bersyukur. Sebab, uang yang diperoleh bisa dipergunakan membeli kebutuhan keluarga di tengah sulitnya memperoleh penghasilan saat pandemi Corona.

“Biasanya dalam sehari bisa mendapatkan pemasukan antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Lumayan buat menambah penghasilan keluarga,” ucapnya.

Ikan-ikan yang dijual di pinggir jalan disatukan menggunakan tali dari daun gebang atau daun lontar, dan diletakan di atas sebatang kayu melintang yang ditopang dua tiang.

Para perempuan duduk di rerumputan di sebelah utara jalan negara, dengan berteduh di bawah rindangnya pohon asam sambil mengawasi pengadara yang lewat dan menepikan kendaraan membeli ikan yang dipajang.

Lihat juga...