Pesan Allah kepada Para Aktivis Pembela Kebenaran

OLEH: HASANUDDIN

SITUASI kebangsaan akhir-akhir ini menunjukkan sejumlah indikasi yang semakin memburuk pada hampir seluruh aspek kehidupan. Fenomena gerhana bulan yang terjadi pada Rabu 26 Mei 2021 dapat disaksikan di seluruh Tanah Air. Namun, hanya mereka yang diberi anugerah Ilahi yang mampu menangkap pesan dari Yang Maha Pencipta dan Pemelihara semesta alam. Sekalipun  pesan itu tersampaikan melalui ayat yang nyata (mubiin).

Situasi kebangsaan yang kian memburuk itu, sesungguhnya telah direspons berbagai pihak dari kalangan para aktivis pembela kebenaran. Hanya saja memang nampaknya respons yang disampaikan belum memperlihatkan tanda-tanda bahwa keadaan telah mulai dapat diatasi. Terlebih lagi, karena para pengingkar kebenaran, dari kalangan yang hanya mementingkan diri dan kelompoknya demi berburu harta benda sebanyak-banyaknya, memiliki dukungan yang dalam secara kasat mata, lebih unggul.  Karena mereka didukung oleh penguasa, pengusaha besar, dan aparat pemerintah, sehingga mereka selalu bersikap sombong dan angkuh.

Kami mengamati secara seksama bahwa sebagian di kalangan para aktivis, telah banyak yang berputus asa, bahkan telah bersikap pragmatis, dengan bergabung dan atau tidak lagi lantang dalam menyuarakan kebenaran. Hal mana disebabkan sejumlah faktor, yang pada intinya nampaknya telah menyerah, tunduk pada tantangan yang sedang dihadapi.

Sebab itu, catatan ini sengaja kami tulis dalam rangka mengingatkan kepada para aktivis pembela kebenaran, agar tidak berputus asa. Serta tetap memelihara akhlak dalam memperjuangkan kebenaran.

Situasi putus asa dalam memperjuangkan kebenaran, sesungguhnya pernah juga dialami oleh beberapa nabi, utusan Allah. Allah mengisahkan pengalaman mereka kepada Nabi Muhammad saw agar menjadi pelajaran bagi Nabi  Muhammad saw agar tetap tegar dalam pendiriannya. Kisah Nabi Yunus misalnya, disampaikan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw, agar tidak terjadi pada diri Beliau dalam masa perjuangannya. Allah swt berfirman:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَى وَهُوَ مَكْظُومٌ (48)

“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhan-mu, dan janganlah kamu seperti (Yunus) orang yang berada di dalam (perut) ikan ketika ia berdoa, sedangkan ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” QS. Al-Qalam (68) ayat 48.

Surah Al-Qalam ini diturunkan pada periode Mekah, dan termasuk surah awal dalam urutan pewahyuan. Diturunkan kepada Muhammad saw, tatkala di dalam hatinya mulai tumbuh rasa lelah, muncul perasaan takut, serta khawatir, disebabkan respons kaum kafir/musyrikin Mekah saat Beliau menyampaikan ajakan kepada mereka agar meninggalkan tradisi mempersekutukan Allah. Kala itu, Nabi Muhammad sempat goyah, ketika kaum kafir/musyrikin Mekah menuduhnya sebagai telah gila. Lalu Allah menguatkan beliau dengan firman-Nya:

ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (1) مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ (2) وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (3) وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4) فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ (5) بِأَيِّكُمُ الْمَفْتُونُ (6) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (7)

“Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. Al-Qalam (68) ayat 1-7.

Seringkali para aktivis (tidak terkecuali para nabi) merasa bahwa Allah meninggalkan mereka, tidak menyertai perjuangan mereka dalam menegakkan kebenaran dari firman-firman-Nya. Bahkan seringkali muncul pandangan bahwa lebih baik bersikap pragmatis saja. Akibatnya semangat juang dalam diri mereka perlahan turun, dan akhirnya larut dalam sikap pragmatisnya itu, bahkan berbalik menjadi sekutu dari mereka yang melakukan aneka kerusakan di muka bumi.

Hal itu dikarenakan bahwa Allah dalam melakukan aktifvitasnya sangat halus. Sehingga tidak dapat terdeteksi oleh siapa pun, selain yang Allah telah beri petunjuk-Nya.

Allah swt berfirman:

فَذَرْنِي وَمَنْ يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (44) وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ (45)

“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kehinaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” QS. Al-Qalam (68) ayat 44-45.

Kata “kaid” (rencana halus) pada ayat 45 di atas, menunjukkan rencana Allah, terkait dengan penciptaan dan penjadian yang tidak dapat diduga-duga oleh siapa pun karena sangat halusnya. Manusia hanya dapat melihat rencana penciptaan ini sepintas saja dalam penggalan-penggalan yang terpisah, tanpa pernah dapat melihat keseluruhannya, suatu rencana yang di dalam segala sesuatu dan semua peristiwa memiliki fungsi yang pasti, dan tidak ada yang bersifat kebetulan. Sebagai disampaikan Allah dalam firman-Nya pada surah Yunus (10) ayat 5

مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (5)

“Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”

Secara tidak langsung, ayat di atas menyinggung pertanyaan (yang sering dilontarkan orang yang mulai frustrasi dengan keadaan) mengenai mengapa Allah membiarkan begitu banyak orang jahat menikmati kehidupan mewah, menindas, berlaku sewenang-wenang sesukanya, sementara orang beriman yang senantiasa menyembah-Nya dibiarkan menderita. Jawabannya adalah bahwa sepanjang hidupnya manusia di dunia ini, tidak sepenuhnya dapat benar-benar memahami ke manakah hal-hal yang tampaknya merupakan kebahagiaan dan ketidakbahagiaan itu, dan pada akhirnya akan berujung pada peran apa yang sedang mereka mainkan dalam “rencana halus” Allah. Hal itu terutama karena manusia (umumnya) senantiasa memandang diri mereka serba cukup. Sebagaimana disebutkan pada Surah al-Alaq ayat 6-7 “Sungguh manusia benar-benar melampaui batas, karena menganggap diri mereka serba cukup.”

Karena itu, kembali Allah berpesan kepada Nabi Muhammad saw (dan tentu pesan itu untuk kita semua), agar bersabarlah (di jalan Allah) karena itu semua tiada lain hanyalah sebuah peringatan, bagi seluruh alam. (QS. Al-Qalam ayat 52).

Akhirnya kepada para aktivis yang tengah berjuang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di manapun, tetaplah istiqamah, dalam keyakinan yang teguh kepada kebenaran firman-Nya, yakinlah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatunya. Dan Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Billhitaufiq Walhidayah. ***

Depok, 28 Mei 2021

Lihat juga...