Petani di Lamsel Antisipasi Minimnya Pasokan Air di Musim Gadu

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Keterbatasan pasokan air untuk lahan pertanian sawah, membuat para petani di Lampung Selatan melakukan pengaturan musim tanam.

Suwardi, petani padi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebutkan, bahwa petani wajib memahami pola tanam atau musim tanam. Menurutnya, pada Maret hingga Juni nanti petani masuk musim tanam ke dua (MT2) atau musim gadu.

Pada masa tanam ke dua, Suwardi bilang pasokan air mulai terbatas. Namun dengan bekerja sama dengan petani lain, ia melakukan gotong royong membaiki saluran irigasi. Meski saluran siring alam berukuran kecil, pembagian air dilakukan secara merata. Petani memanfaatkan alat pengolah lahan dengan traktor untuk mempercepat penyiapan lahan.

Sebelum proses pengolahan lahan, Suwardi melakukan perendaman sawah dengan air. Proses perendaman atau ngelep bertujuan untuk melunakkan tanah saat dibajak dengan mesin traktor. Memiliki lahan sawah di bagian bawah, ia menunggu proses pengolahan lahan yang dilakukan di bagian atas. Kontur sawah miring memungkinkan petani berbagi air saat pengolahan lahan.

“Pengolahan lahan dilakukan petani pada bagian atas, sehingga air irigasi bisa dimanfaatkan untuk pengolahan lahan dan penyiapan media untuk penanaman, sehingga air yang digunakan bisa dimanfaatkan maksimal,” terang Suwardi, saat ditemui Cendana News, Senin (24/5/2021).

Suwardi mengatakan, dua pekan sebelum pengolahan lahan ia telah melakukan penyemaian benih. Penyemaian benih yang siap tanam pada usia 25 hari, membuatnya bisa mempersiapkan pengolahan lahan tepat waktu.

Proses pembajakan lahan dengan traktor, proses tamping atau penyiapan galengan (pematang)  sawah dilakukan maksimal sepekan. Saat selesai pengolahan lahan, bibit bisa ditanam dengan sistem ceblok pada lahan seluas setengah hektare.

Pemanfatan saluran irigasi alam, sebut Suwardi, menjadi cara petani memaksimalkan indeks pertanaman (IP). Memasuki masa tanam ke dua atau gadu, Suwardi pun mengaku sudah mengantisipasi kekurangan pasokan air.

Kekurangan pasokan air disiapkan dengan membuat bendungan kecil memakai batu. Ia juga memanfaatkan mesin pompa untuk mengalirkan air dari aliran sungai yang lebih rendah dari lahan sawah dari sungai Way Asahan.

“Musim gadu dengan potensi pasokan air berkurang diantisipasi dengan mesin pompa dan membendung siring,” ulasnya.

Pengaturan musim tanam dilakukan Suwardi dengan memilih bibit toleran pada kondisi kekurangan air. Ia memilih bibit padi Ciherang batang pendek dengan usia tanam hingga panen 115-120 hari. Pemilihan bibit yang tepat sekaligus pola tanam serentak dengan petani lain, berpotensi mencegah hama. Selain air bisa dimanfaatkan maksimal, organisme pengganggu tanaman (OPT) bisa diminimalisir dengan baik.

Sementara itu Budianto, petani di desa yang sama, memilih mempercepat pengolahan lahan dengan traktor. Proses pengolahan lahan dengan traktor lebih efesien, meski harus mengeluarkan biaya bahan bakar.

Pengaturan air irigasi untuk pengolahan lahan membuat petani memulai awal tanam dengan serentak. Butuh waktu empat hari pengolahan lahan dengan traktor hingga lahan siap ditanami.

“Semua lahan sawah di desa kami dominan diolah memakai traktor, agar lebih cepat diolah hingga proses tanam,” ulasnya.

Sebelumnya, lahan sawah telah diistirahatkan selama dua bulan. Imbasnya, lahan sawah miliknya telah dipenuhi rumput liar. Namun, jerami yang membusuk bisa menjadi penyubur lahan sawah miliknya. Antisipasi kekurangan pasokan air, Budianto menyediakan sumur gali. Sumur gali dimanfaatkan untuk tambahan pasokan air, sebab musim tanam gadu membuat petani terkendala pasokan air.

Lihat juga...