Petani di Lamsel Manfaatkan Pohon Medang untuk Lahan Miring

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Kebutuhan konsumsi masyarakat domestik untuk bahan bangunan berbahan kayu masih mengandalkan hutan rakyat. Dikembangkan dengan sistem polikultur bersama pohon buah produktif memberi dapat memberikan hasil ganda petani.

Subawi, petani di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan menyebutkan, beberapa lahan non produktif yang tidak bisa diolah menjadi lahan perkebunan dilestarikan sebagai hutan rakyat. Masyarakat Kelawi bahkan memiliki hutan larangan atau tutupan dengan tanaman medang yang tidak boleh ditebang.

Medang dan tanaman lain yang tidak boleh ditebang sebagian memiliki diameter lima meter. Berbagai jenis pohon tersebut menjadi sumber bibit secara generatif memakai biji. Penanaman berjajar pada lahan miring memperkuat sistem pertanian terasering penahan longsor.

“Hutan berbasis rakyat memberi peluang petani tetap bisa memetik hasil kayu dengan sistem tebang pilih setelah ada pohon penerus untuk regenerasi, selanjutnya pohon tua bisa dipanen sebagai bahan bangunan,” terang Subawi saat ditemui Cendana News, Rabu (26/5/2021).

Hutan rakyat sebut Subawi erat kaitannya dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Ia bahkan menyebut sebagian tanaman pohon produktif seperti durian, petai, jengkol dan duku ditanam tumpang sari.

Laju deforestrasi atau penebangan hutan sebut Subawi dominan untuk kebutuhan lahan pertanian. Meski demikian keberadaan lahan miring perbukitan jadi peluang tetap menanam pohon medang.

“Saat biji bertunas saya bisa melakukan penyemaian dengan polybag untuk memilih batang yang lurus dan ditanam pada lahan,” ulasnya.

Potensi pengembangan pohon yang memiliki akar tunjang sebutnya memiliki daya serap air tinggi. Pada wilayah hutan tutupan, pohon medang menjadi lokasi munculnya mata air. Saat kemarau kebutuhan air dari sumber belik bisa dipenuhi dengan adanya sumber mata air tersebut.

Pada hutan rakyat yang dikelola medang bisa dipanen saat usia 8 hingga 10 tahun menjadi bahan bangunan bernilai ekonomi tinggi. Subawi menyebut pohon dengan diameter setengah meter bisa dijual olehnya sekitar Rp6 juta.

Produksi kayu medang untuk kebutuhan bahan bangunan dipenuhi oleh Subawi, warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (26/5/2021). Foto: Henk Widi

Suharman, petani lainnya menyebut menanam medang dengan tumpang sari. Keunggulan medang memiliki batang lurus sehingga tidak mengganggu tanaman lain. Bagian batang bisa luruh dengan sendirinya saat tua dan daun gugur pada musim kemarau. Meski menggugurkan daunnya,  dan memiliki kandungan air yang tinggi pada bagian kulit.

“Sebagian tanaman medang tumbuh subur dekat aliran sungai sehingga menahan longsor,” ulasnya.

Menanam medang sebut Suharman jadi investasi jangka panjang. Pada hutan rakyat yang ditanam dengan tumpang sari juga ikut menjaga lingkungan. Memiliki batang dengan kanopi daun yang lebar bisa menjadi peneduh tanaman lain.

Naim, salah satu penyedia bibit berbagai jenis tanaman kayu menyebut medang jadi alternatif tanaman hutan rakyat. Menerapkan konsep agroforestry dengan tanaman beragam sebut warga Desa Rawi, Kecamatan Penengahan itu, cukup potensial. Kayu kerap digunakan sebagai bahan palet, bahan bangunan yang dibutuhkan warga.

Bagi jangka panjang penanaman pohon medang sebutnya membantu lingkungan. Sebab sebagian lahan yang ditanami tetap terjaga kelestariannya. Pengguguran daun setiap kemarau ikut menyuburkan lahan. Petani juga bisa memenuhi kebutuhan bahan bangunan tanpa harus membeli.

Lihat juga...