Pola Makan Bijak Cegah Penyakit Tidak Menular

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Lebaran sebagai hari istimewa identik dengan sajian kuliner lezat. Setelah sebulan berpuasa, sajian variasi menu makanan opor ayam, gulai, rendang, sop, sate terhidang. Pola makan tidak terjaga berpotensi ancam gangguan kesehatan. Jenis penyakit tidak menular berupa kolesterol bisa terjadi.

Maria Listiana, salah satu warga Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebutkan, makanan berlemak dari kuliner daging sapi, kambing dan kerbau yang diolah dengan santan meningkatkan kolesterol.

Kadar lemak pada olahan daging tetap bagus untuk tubuh, namun keseimbangan pola makan dengan aktivitas fisik atau olahraga jadi kunci pengurangan kolseterol.

“Saya kerap khilaf mengonsumsi semua jenis makanan enak terutama sajian opor, gulai yang ditawarkan kerabat. Solusinya tetap makan namun dengan porsi terbatas untuk menghormati kerabat yang menghidangkan kuliner, namun tetap diimbangi konsumsi jus untuk meluruhkan lemak,” terang Maria Listiana saat ditemui Cendana News, Jumat (14/5/2021).

Faktor kesehatan cegah penyakit tidak menular (PTM) sebutnya jadi kesadaran dalam menjaga pola makan. Pola makan teratur selama puasa Ramadan tidak serta merta jadi ajang “balas dendam” konsumsi makanan enak. Potensi kalap bisa memicu gula darah, gangguan kolesterol. Membatasi makanan juga meminimalisir obesitas usai lebaran.

“Membatasi komsumsi hidangan saat lebaran jadi resep agar tidak mengalami gangguan penyakit tidak menular,” bebernya.

Hardiansah, salah satu warga yang merayakan lebaran mengaku kerap kalap. Selain makanan berpotensi kolesterol oleh lemak pada olahan daging, juga mengonsumsi makanan ringan (snack) berlebih.

Siti Suwarni, salah satu warga Desa Gandri menyebut hidangan istimewa kerap disajikan. Selama lebaran, sajian gulai, rendang hingga sop daging kerap jadi menu favorit.

Maria Listiana, warga Desa Gandri Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menikmati hidangan sayuran hindari kolesterol kala lebaran, Jumat (14/5/2021). Foto: Henk Widi

Olahan berbahan daging sebutnya jadi pelengkap lontong dan ketupat. Tradisi memberi hantaran atau rantangan juga membuat ia mendapat menu makanan berlemak.

“Hidangan yang lezat penuh lemak tentunya diimbangi dengan sayuran dan buah agar tidak menyebabkan kolesterol,” tuturnya.

Samsu Rizal, kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Ketapang menyebut pola makan selama lebaran tetap harus dijaga. Sesuai pengalaman tahun sebelumnya, usai lebaran banyak warga alami gangguan kesehatan. Dominan hipertensi, kolesterol, pusing hingga obesitas.

Sebagai antisipasi penyakit tidak menular, bijak memilih makanan perlu dilakukan. Konsumsi makanan enak, snacking tetap bisa dilakukan namun diimbangi makanan sehat. Menyiapkan jus buah, jus sayuran bisa jadi pilihan. Setelah lebaran dengan konsumsi seimbang juga perlu dilakukan olahraga rutin. Olahraga ringan lari, jalan kaki, sepeda berpotensi menjaga stamina dan membakar lemak usai lebaran.

Lihat juga...