Promosi Wisata Bukit Menoreh Perlu Ditingkatkan

KULON PROGO – Anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Wisnu Prasetya, meminta pemerintah setempat meningkatkan promosi potensi wisata secara visual kawasan Bukit Menoreh untuk mendongkrak kunjungan wisatawan di wilayah ini.

Wisnu Prasetya di Kulon Progo, Minggu, mengatakan berdasarkan laporan data kunjungan wisatawan dan pendapatan retribusi objek wisata, pada saat libur Lebaran 2021 beberapa waktu lalu, kunjungan wisatawan di kawasan Bukit Menoreh sangat sedikit dibandingkan di wilayah selatan seperti Pantai Glagah dan Congot.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kulon Progo, kunjungan wisatawan di objek wisata kawasan Bukit Menoreh, yakni Gua Kiskendo sebanyak 863 wisatawan menyumbang Rp4,09 juta, Puncak Suroloyo sebanyak 297 wisatawan menyumbang Rp1,7 juta, wisata alam Nglinggo sebanyak 2.389 wisatawan menyumbang Rp7,17 juta, wisata alam Tritis sebanyak 310 wisatawan menyumbang Rp930 ribu.

Selanjutnya, kawasan Menoreh Barat sebanyak 319 wisatawan menyumbang Rp638 ribu, dan kawasan Jatimulyo sebanyak 2.100 wisawatan menyumbang Rp4,2 juta.

“Dilihat dari kunjungan wisatawan di objek wisata ini sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang luar biasa. Kami berharap Pemkab Kulon Progo melalui dinas teknis, yakni Dinas Pariwisata meninjau ulang sistem promosi yang sudah berjalan dan membuat program strategis pengembangan wisata kawasan Menoreh,” kata Wisnu.

Ia mengatakan sektor pariwisata menjadi salah satu triger percepatan pemulihan ekonomi masa pandemi COVID-19 sehingga perlu ada pembenahan manajemen promosi dan pelayanan, serta pengelolaan objek wisata yang modern supaya menarik dikunjungi wisatawan. Pemkab Kulon Progo harus berani mendobrak gaya lama pengelolaan objek wisata supaya bisa bersaing.

Saat ini, di wilayah utara kawasan Menoreh banyak tumbuh gerai dan kedai kopi hingga rumah makan, namun tidak berdampak pada peningkatan kunjungan objek wisata di wilayah utara. Pengunjung lebih memilih menikmati suasana di kedai, dibandingkan masuk ke objek wisata.

“Tingginya kunjungan ke kedai harus ditangkap Dispar dalam mendongkrak kunjungan wisatawan dengan mengembangkan objek wisata yang lebih diminati wisatawan supaya tidak semakin terbelakang objek wisata di wilayah utara,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Joko Mursito, mengatakan, wilayah utara sudah berbenah melalui pelatihan-pelatihan dan pendampingan pengelolaan wisata, kerja sama dengan Badan Otoritas Borobudur (BOB) dan Kementrian Parekraf yang ditandai dengan deklarasi CHSE Gelang Projo (Magelang, Kulon Progo, Purworejo)

Selain itu, juga telah ditetapkannya Jatimulyo dan Pagerharjo sebagai desa mandiri budaya melalui dana keistimewaan. Dinas Pariwisata yang ditugasi untuk mendampingi dalam pengemasannya diharapkan bisa menggerakkan perekonomian masyarakat melalui desa wisata, desa budaya, desa preneur dan desa prima.

“Termasuk pembenahan infrastruktur jalan melalui program padat karya,” katanya.

Ia mengatakan akan dibangunnya Borobudur Highland di perbatasan Kulon Progo – Purworejo tentu membawa harapan besar bahwa persoalan infrastruktur jalan yang selama ini menjadi kendala utama pengembangan dapat segera teratasi.

“Kawasan Kuliner Kentheng ke barat juga menjadi target penataan saat ini. Sedangkan Gerbang Samudra Raksa ke depan akan dimaksimalkan pemanfaatannya agar lebih produktif lagi,” katanya. (Ant)

Lihat juga...