Revitalisasi ‘Loang Baloq’ Dilengkapi Tanggul Penahan Gelombang

MATARAM  – Dinas Pariwisata Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengatakan, dalam perencanaan kegiatan revitalisasi objek wisata Taman Loang Baloq dibangun tanggul penahan gelombang serta sumur resapan sebagai antisipasi dampak banjir rob ke depan.

“Jadi tidak ada masalah, banjir rob yang melanda kawasan objek wisata Taman Loang Baloq pada Rabu (26/5), tidak mempengaruhi  kegiatan revitalisasi dengan anggaran Rp11,7 miliar dan proses persiapan tetap berjalan,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Jumat.

Menurutnya, tanggul yang  dibangun itu memiliki panjang sekitar 50 meter, dengan ketinggian 1,5 meter hingga 2 meter. Keberadaan tanggul bisa berfungsi menahan gelombang ketika terjadi musim angin barat sekaligus antisipasi banjir rob.

Ia mengakui, lokasi areal revitalisasi objek Taman Loang Baloq pascabanjir rob kondisinya tergenang seperti kolam renang. Tapi kondisi itu tidak mempengaruhi struktur bangunan.

“Pada areal revitalisasi, kita tidak ada membangun dengan kontruksi gedung tinggi. Kita hanya akan membangun sebuah plaza sebagai tempat pementasan berbagai atraksi seni dan budaya,” katanya.

Akan tetapi, untuk menghindari terjadinya genangan air karena kondisi tanahnya lebih rendah dari permukaan laut, akan dibangun sumur resapan dengan jumlah yang banyak serta disiapkan mesin sedot air.

“Kondisi ini sudah kita pikirkan dengan berbagai solusi. Apalagi, bencana banjir rob tidak terjadi setiap hari,” katanya.

Lebih jauh Denny mengatakan, dengan anggaran revitalisasi Loang Baloq sebesar Rp11,7 miliar tersebut dilaksanakan 11 kegiatan pembangunan fasilitas pendukung.

“Dari 11 kegiatan yang akan kita laksanakan antara lain, pembangunan panggung plaza, panggung air, lampu laser, toilet dan pembangunan dua menara tower untuk memantau aktivitas masyarakat di sekitar objek wisata,” katanya.

Keberadaan panggung plaza itu, tambahnya, ke depan menjadi wadah kegiatan terutama untuk seni dan budaya baik skala nasional maupun lokal, berbayar atau gratis.

“Misalnya kegiatan atraksi budaya ‘peresesan’, ‘gendang beleq’ dan lainnya. Intinya, setelah panggung itu jadi kita akan tetap menggelar kegiatan seni dan budaya setiap akhir pekan,” katanya. (Ant)

Lihat juga...