Sepi Pembeli, Penjual Boboko di Bandung Terpaksa Banting Harga

Editor: Koko Triarko

BANDUNG – Sapri (41), penjual boboko (bakul/wakul nasi) asal Ciparay, Kabapaten Bandung, terpaksa menjual barang dagangannya dengan harga murah. Pasalnya, hingga beberapa hari jelang hari raya Idulfitri, dagangan yang terbuat dari anyaman bambu tersebut tidak banyak terjual.

“Sepi banget yang beli. Sehari kadang cuma satu, kadang malah tidak ada sama sekali, padahal ini sudah mau lebaran, biasannya yang beli banyak, tapi ini betul-betul sepi,” ujar Sapri, kepada Cendana News, di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Selasa (11/5/2021).

Normalnya, Sapri menjual boboko ukuran kecil seharga Rp15.000 per buah. Namun kali ini ia banting harga, boboko yang semula harganya Rp15.000 dijual hanya dengan harga Rp7.500 atau setengah harga.

“Memang tidak sampai rugi juga, cuma untungnya itu sedikit sekali. Iya daripada tidak laku, mana mau lebaran, pengeluaran kan banyak, buat beli baju anak-anak dan sebagainya itu,” ucap Sapri.

Setelah banting harga, Sapri mengaku dagangannya menjadi cukup laris. Dalam sehari, ia bisa menjual lebih dari 20 boboko dan berbagai barang lainnya.

“Kalau modal bikin satu boboko begini sih tidak besar, cuma yang besar itu tenaganya. Karena ini kan bikinnya pakai tangan, bukan pakai mesin,” cetus Sapri, yang berjualan menggunakan kendaraan roda dua.

Sementara itu, Esin, warga Kampung Babakan Mantri, Arjasari menyebut, bahwa boboko sebetulnya memiliki banyak fungsi, selain untuk memudahkan dalam mencuci beras, boboko juga digunakan untuk menyimpan nasi yang sudah matang.

“Kalau orang-orang Sunda dulu mah pakainya boboko, kalau sekarang kan kebanyakannya pakai magic com. Padahal kalau wadah nasi itu pakai boboko, bisa jauh lebih cepat dinginnya dan lebih enak saja, apalagi kalau dilapisi daun pisang,” jelas Esin.

Menurut Esin, sudah sepatutnya masyarakat tetap menggunakan boboko di rumah masing-masing, atau jangan sampai menghilangkannya sama sekali. Sebab, boboko merupakan tradisi masyarakat Sunda yang patut dilestarikan.

“Selain itu, kita kan juga sekalian bisa membantu para perajin yang membuat boboko ini, agar usaha mereka tetap laku. Ini kalau menurut saya penting sekali,” pungkas Esin.

Lihat juga...