Lebaran CDN

Setahun Pandemi, Jasa Cuci Pakaian di Jember Masih Terpuruk

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Genap satu tahun, usaha jasa cuci pakaian di Jember belum mengalami peningkatan pendapatan.

Erwin, pemilik usaha cuci pakaian mengatakan, selama ini berjalannya usaha yang dilakukan karena aktivitas kampus yang aktif. Dirinya mengaku seringkali menerima pesanan cuci pakaian dari kalangan mahasiswa.

“Banyak mahasiswa saat ini yang sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Karena satu tahun lebih pandemi Covid-19 terjadi, ada  sebagian mahasiswa sudah lulus. Mahasiswa pun harus mengikuti sistem kuliah daring. Sedangkan sejak penerimaan mahasiswa baru, belum ada satu pun mahasiswa yang memilih untuk ngekos,” ujar Erwin kepada Cendana News, di wilayah Jalan Jawa IV, Kelurahan Tegalboto, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Selasa (4/5/2021).

Pesanan atas cuci pakaian yang diterima saat ini, sangat minim. Hanya dari beberapa mahasiswa yang masih memilih menetap di Jember, biasanya mahasiswa yang berasal dari luar Pulau Jawa.

“Walau sepi pesanan yang ada, setiap hari masih ada beberapa mahasiswa yang datang ke sini. Tapi jumlahnya sangat sedikit. Itu pun untung yang didapatkan minim sekali. Karena alat cuci yang digunakan menggunakan listrik semua, seperti alat pencuci dan pengeringnya menggunakan listrik,” ucapnya.

Walau pesanan yang ada sangat minim, Erwin mengaku masih menerima sebagai hasil untuk memenuhi pendapatan keluarga.

Erwin menambahkan, selama pandemi tarif harga yang diberikan masih sama.

“Seperti biasa, harga per kilogram untuk cuci kering Rp4.000, sedangkan untuk cuci dan setrika per kilogram seharga Rp5.000. Namun untuk sistem cuci kilat sehari selesai, per kilogram naik Rp1.000,” ungkapnya.

Secara terpisah, Muji, yang berasal dari Desa Pakusari Jember dan membuka usaha jasa cuci pakaian di sekitar lingkungan kampus, menyatakan usaha yang saat ini dilakukan sudah berlangsung sejak 5 tahun yang lalu.

Muji, saat ditemui di tempat usahanya di Jalan Jawa VI, Kelurahan Tegalboto, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Selasa (4/5/2021). – Foto: Iwan Feri Yanto

“Sebelum pandemi Covid-19, setiap hari omzet yang saya dapatkan Rp500.000 dari hasil cuci pakaian. Akan tetapi, saat ini, omzet yang didapat turun drastis, sehari omzet yang didapatkan hanya Rp70.000,” ucapnya.

Selama mengalami penurunan omzet setiap harinya, Muji mengatakan, tidak melakukan perubahan harga yang ditawarkan. Dirinya mengaku, lebih menggunakan teknik kecepatan penyelesaian setiap ada yang datang ke ruko miliknya.

“Bagi saya pribadi, dengan menaikkan harga akan mengakibatkan sepi pesanan. Karena pelaku usaha jasa cuci pakaian di sekitar lingkungan kampus sendiri sudah banyak. Hanya saja, saya menggunakan cara penyelesaian yang lebih cepat. Karena saat ini dengan semakin cepat menyelesaikan pesanan cuci pakaian, orang akan lebih tertarik,” ungkapnya.

Lihat juga...