Soto Sokaraja Sutri, Diburu Pembeli Setelah Ramadan Tutup

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANYUMAS – Menikmati hidangan soto saat pagi menjelang siang banyak dilakukan warga Banyumas di akhir pekan. Salah satu tempat makan yang ramai dikunjungi adalah soto sokaraja sutri yang berlokasi di Desa Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja.

Antrean pembeli memenuhi warung soto tersebut, sebab selama bulan puasa satu bulan penuh, warung soto tersebut tutup dan baru buka pascalebaran. Tradisi tutup selama bulan puasa sudah dilakukan sejak lama.

“Baru hari ini bisa menikmati soto sutri setelah dua bulan kemarin habis lebaran sempat ke sini, tetapi selalu kehabisan, jadi hari ini lebih pagi ke sini,” tutur salah satu pelanggan soto sutri, Widianto, Sabtu (29/5/2021).

Soto Sokaraja merupakan hidangan khas Banyumas yang berbeda dengan soto pada umumnya. Soto terdiri dari ketupat, kecambah, daun bawang serta daging sapi dan kerupuk. Kuah soto kecoklatan karena diberi sambal kacang. Biasanya pembeli menambahkan dengan kelanting atau mireng sebagai pelengkap.

Kunci kelezatan soto sokaraja adalah pada kuah sotonya serta daging yang direbus lama beserta kuah soto, sehingga aroma daging sapi segar meresap.

Pada jalur utama di Kecamatan Sokaraja berderet warung soto, mulai dari soto lama, soto kecik yang juga cukup legendaris, hingga soto rahayu dan lain-lain. Namun, soto sutri mempunyai keunggulan tersendiri menurut para pelanggannya, yaitu porsinya yang lebih banyak dan irisan dagingnya yang empuk.

Pemilik warung soto, Sutri mengatakan, warung sotonya sudah ada sejak puluhan tahun lalu, yaitu sekitar tahun 1990-an. Awalnya hanya warung soto kecil yang bangunannya hanya bilik bambu berukuran 2×2 meter di tepi jalan desa. Pada saat itu yang membeli juga hanya warga sekitar saja.

Pemilik warung soto, Sutri (duduk) di warung sotonya, Sabtu (29/5/2021). Foto: Hermiana E. Effendi

Kelezatan masakan sotonya membuat warungnya ramai pembeli, hingga akhirnya Sutri menyewa sebuah rumah warga yang berada di tepi jalan. Lokasi barunya hanya berjarak sekitar 500 meter dari warung lama.

“Alhamdulillah soto racikan saya disukai pelanggan, sehingga akhirnya bisa mempunyai dua warung soto sekarang, meskipun tetap warungnya sederhana, namun lebih luas,” tuturnya.

Meskipun ramai pembeli dan banyak yang menawarkan untuk membuka cabang di luar Sokaraja, Sutri menolaknya.

Bahkan, ia juga membatasi jam buka warung sotonya hanya sampai pukul 14.00 WIB. Tidak pernah menambah masakan, meskipun seringkali ada pelanggan yang datang dan harus kecewa karena soto sudah habis.

“Prinsip saya, setiap hari semua stok bahan soto harus segar dan baru, sehingga tidak perlu menambah stok masakan banyak-banyak,” ucapnya.

Lihat juga...