Lebaran CDN

Tanaman Bakau di Nobo Banyak yang Gagal Tumbuh

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Bakau yang ditanam oleh masyarakat dan berbagai kelompok di pesisir pantai Desa Nobo, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak yang gagal tumbuh akibat berbagai persoalan.

“Lebih banyak yang gagal tumbuh kalau ditanam anakannya. Kalau tanam propagul atau biji hampir semuanya tumbuh,” kata Vinsensius Litan Witi, warga Desa Nobo, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, NTT, saat dihubungi Rabu (5/5/2021).

Warga Desa Nobo, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, NTT, Vinsensius Litan Witi yang selalu setia menaman bakau saat dijumpai di pesisir pantai desanya, Sabtu (24/4/2021). Foto: Ebed de Rosary

Sius sapaannya menyebutkan, dirinya selalu menanam bakau di pantai Desa Nobo dalam jumlah banyak menggunakan propagul dan tumbuh, namun bakau-bakau tersebut dicabut warga saat malam hari.

Pria yang selalu menanam bakau setiap tahunnya ini mengaku kecewa, namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus menanam bakau sejak pertama kali menanam di tahun 2018.

“Paling-paling di pantai Desa Nobo hanya 3 rumpun saja yang tumbuh. Ada juga di Desa Nurabelen di sebelah selatan Desa Nobo yang saya tanam dan tumbuh bagus karena warganya tidak mencabut,” ujarnya.

Sius mengaku menanam bakau bersama istri dan kedua anakanya di sela-sela waktu luang bertani dan propagulnya diambil di Pulau Konga yang berjarak sekitar 300 meter dari daratan di desanya.

Dia mengaku, bila hendak menanam maka dirinya menggunakan perahu bertolak ke Pulau Konga. Lalu memilih propagul yang jatuh di tanah, sebab di pulau tersebut bakaunya sudah berbuah.

“Saya lebih senang menanam menggunakan propagul sebab selain lebih mudah dan tidak perlu melakukan pembibitan, bakaunya pasti tumbuh. Tapi harus diikat di batang kayu yang ditancapkan di tanah agar tidak tercabut saat tersapu ombak,” ucapnya.

Sementara itu, kepala kantor Yayasan Misool Baseftin Flores Timur, Evi Ojan, mengaku, kagum dengan langkah yang dilakukan Sius bersama keluarganya dalam menanam bakau di pesisir pantai di desanya.

Evi yang selalu mendampingi Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) dalam melakukan konservasi ekosistem laut mengatakan, apa yang dilakukan Sius tersebut memberi contoh kepada anggota Pokmaswas di desanya dan sudah banyak yang tertarik menanam bakau.

“Kita sedang mendorong agar dibuatkan Peraturan Desa (Perdes) agar ada sanksi bagi warga yang merusak tanaman bakau. Pemerintah desa juga bisa menganggarkan dana untuk kegiatan konservasi termasuk penanaman bakau,” ungkapnya.

Evi mengaku sedang mendampingi Pokmaswas di Desa Nobo agar hutan bakau nantinya bisa dijadikan sebagai tempat wisata supaya ada pemasukan bagi kelompok dan desa.

Lihat juga...