Tanaman Kayu Keras Jadi Solusi Konservasi Lahan Galian Batu Bata

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Produksi batu bata di wilayah Kecamatan Palas, Lampung Selatan berlangsung sejak puluhan tahun silam. Kebutuhan akan bahan baku tanah dipenuhi dengan penggalian. Persoalan muncul saat lubang bekas galian dibiarkan terbengkelai.

Ponimin, salah satu produsen batu bata di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas memilih melakukan konservasi lahan dengan tanaman kayu keras. Pemanfaatan lain dilakukan dengan membuatnya menjadi kolam ikan air tawar jenis nila, lele.

Proses penanaman lahan galian bahan batu bata sebutnya dilakukan dalam beberapa tahap. Ponimin kerap mempergunakan lubang galian untuk membuang sampah organik. Abu sekam bekas pembakaran, batu bata yang remuk hingga kotoran ternak dibuang dalam lubang. Selanjutnya tanah akan diratakan dan dibuat sejumlah lubang media tanam.

“Lubang media tanam diberi pupuk kandang dan kompos sembari menyiapkan bibit tanaman kayu keras jenis akasia, pule dan sejumlah tanaman produktif seperti mangga, jambu serta tanaman cepat panen seperti pisang yang berguna untuk menghijaukan lingkungan yang gersang,” terang Ponimin saat ditemui Cendana News, Rabu (26/5/2021).

Jenis tanaman akasia sebut Ponimin memiliki sifat mengikat tanah. Tanaman tersebut memiliki perakaran tunjang yang mampu menggemburkan tanah. Beberapa tanaman jenis leresede yang memiliki daun pakan ternak kambing juga jadi alternatif. Tanaman tersebut menjadi bahan baku pupuk kompos pada bagian tanaman. Setelah menjadi pakan ternak kambing, kotoran bisa disebarkan pada lahan untuk pupuk.

“Lahan yang dikonservasi tetap harus dipulihkan dengan pemberian pupuk agar bisa menjadi nutrisi tanaman,” ulas Ponimin.

Sebagian tanaman kayu keras jenis akasia, sengon, jati ambon pada lahan bekas galian bisa menjadi bahan bakar. Saat usia 6 hingga 7 tahun tanaman kayu keras bisa dipanen sebagai bahan palet. Sebagian kayu berpotensi untuk bahan pembakaran batu bata yang telah dikeringkan.

Pembuatan batu bata dengaan sistem penggalian tanah dilakukan Srianto, warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu (26/5/2021). Foto: Henk Widi

Produsen batu bata lain, Srianto, di desa yang sama menyebut lubang bekas galian bekas batu bata kerap membuat lahan gersang. Namun produsen memanfaatkannya untuk pembuatan kolam ikan. Jenis ikan yang bisa dibudidayakan berupa ikan lele, ikan nila. Kolam yang menampung air juga dimanfaatkan untuk menyiram tanaman kayu keras.

“Saya lebih memilih menanam pohon nangka, kelapa dan mangga karena bisa dipanen untuk kebutuhan harian,” bebernya.

Srianto menyebut konservasi lahan galian bahan batu bata mutlak dilakukan. Sebab penggunaan tanah berimbas degradasi kualitas tanah. Meregenerasi kualitas tanah bisa dilakukan dengan pemakaian pupuk organik.

Kayu keras penghasil daun pakan ditanam Ngadimun. Pemilik ternak kambing itu menyebut jenis pohon leresede, mindi, nangka dimanfaatkan bagian daun. Penanaman berbagai jenis pohon pada bekas lahan galian batu bata itu memiliki manfaat ekologis. Selain menjaga tanah dan menyuburka bekas galian, ia bisa mendapat nilai ekonomis. Jangka panjang tanah yang gersang kembali dihijaukan dan kotoran ternak jadi pupuk penyubur tanah.

Lihat juga...