Tape Uli, Kudapan Wajib Masyarakat Betawi Saat Lebaran

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Bagi masyarakat Betawi, tape uli merupakan panganan wajib disantap saat perayaan hari Idul Fitri atau lebaran. Tape dan uli, keduanya berbahan dasar beras ketan dengan proses pembuatan yang berbeda.

“Tape dibuat dari beras ketan hitam yang difermentasi dengan memakai ragi, sehingga mempunyai rasa asam manis yang meleleh di mulut saat disantap,” kata Ani, seorang warga Betawi yang tinggal di Cijantung, Jakarta Timur kepada Cendana News saat ditemui di rumahnya, Rabu (12/5/2021).

Pembuatan tape uli menurutnya, membutuhkan waktu beberapa hari, terlebih saat fermentasi beras ketan hitam yang diberi ragi.

Cara membuatnya, cuci beras ketan hitam hingga bersih, lalu kukus sampai matang, kemudian didiamkan sampai benar-benar dingin. Setelah itu, ketan hitam diberi ragi tape dan didiamkan beberapa hari dalam wadah yang tertutup rapat, hingga ketan berubah menjadi tape.

“Siapkan ragi dan tumbuk halus. Ragi halus ini kemudian ditaburkan pada ketan yang sudah dingin. Masukkan ketan ke dalam wadah, lalu tutup, diamkan dalam waktu dua hari sampai ketan jadi tape yang rasanya manis dan sedikit asam dengan tekstur yang sedikit berair,” ujar perempuan kelahiran Jakarta 64 tahun lalu ini.

Menurutnya, penambahan ragi pada ketan menjadi proses tersulit, sebagai penentuan berhasil tidak tape ketan hitamnya. Namun, saat proses peragian ada hal yang harus diperhatikan, yakni suasana hatinya harus lagi tenang agar hasilnya maksimal.

Sedangkan pembuatan uli berasal dari beras ketan putih yang dikukus sampai jadi nasi. Kemudian dicampur dengan kelapa parut dan diberi garam. Lalu tumbuk sampai halus parut dan diberi garam. Selanjutnya, uli dibungkus daun pisang dan siap disajikan.

“Uli rasanya gurih disantap dengan tape yang rasanya manis asam. Ini kudapan khas Betawi saat lebaran, saya selalu bikin untuk santapan anak, cucu dan kerabat. Mereka kalau datang pasti nanyain tape uli ini,” ujar nenek 10 cucu ini.

Ani membuat uli dengan bahan dasar 8 liter beras ketan putih dan empat butir kelapa. Sedangkan tape sebanyak 5 liter ketan beras hitam.

“Untuk uli itu namanya beras ketan paris perliternya Rp20.000. Kalau tape itu disebut beras hitam solo,” ujar ibu 6 anak ini.

Nenek Entin, sesepuh Betawi sedang mengaduk tape beras ketan hitam yang dibuatnya di rumahnya di Jalan Krida Mandala, Cijantung pada Rabu (12/5/2021). foto: Sri Sugiarti.

Entin sesepuh Betawi yang merupakan warga Cijantung, Jakarta Timur, mengaku setiap lebaran selalu membuat tape uli untuk santapan keluarganya di hari Lebaran.

Bagi masyarakat Betawi, kata Entin, tape uli merupakan simbol kebersamaan karena para perempuan bertugas memasak beras ketan. Sedangkan kaum laki-laki menumbuk ketan hingga halus menjadi uli.

“Tape uli ini simbol tradisi budaya Betawi, cerminan kebersamaan. Makanya, kudapan khas ini wajib ada di saat lebaran,” ujar perempuan kelahiran Jakarta 80 tahun lalu ini.

Menurutnya, meskipun sama-sama dibuat menggunakan beras ketan, tapi cita rasa yang dihasilkan berbeda, sehingga keduanya sangat nikmat disantap.

“Ketan hitam yang sudah menjadi tape, rasa manis dan sedikit asam, lembut saat disantap dicocol pakai uli,” pungkasnya.

Lihat juga...