Terapkan CHSE, Bukit Pematang Sunrise Masih Sepi Pengunjung

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Pelaku sektor usaha pariwisata di Lampung Selatan masih membuka peluang wisatawan untuk berkunjung. Strategi dilakukan oleh destinasi wisata alam salah satunya Bukit Pematang Sunrise dengan menerapkan CHSE.

Ardi Yanto, salah satu pengelola destinasi wisata alam di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan itu telah menerapkan sistem protokol CHSE.

Penerapan protokol CHSE sebut Ardi Yanto merupakan jaminan usaha wisata terhadap pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan. CHSE sebutnya merupakan singkatan dari Cleanliness, Health, Safety dan Environment. Meski penerapan CHSE telah diberlakukan namun ia menyebut kunjungan wisatawan tetap sepi.

Faktor utama sepinya kunjungan sebut Ardi Yanto dampak dari tren wisatawan pada destinasi baru. Saat awal dibuka bertepatan dengan masa pandemi Covid-19 kunjungan mencapai ratusan orang setiap akhir pekan. Namun setelah sejumlah wisatawan yang pernah berkunjung memilih tidak kembali. Meski tawaran wisata alam dengan view menarik, sulitnya warga luar daerah masuk Lamsel menjadi penyebab penurunan kunjungan wisatawan.

Ardi Yanto, salah satu pengurus destinasi wisata alam Bukit Pematang Sunrise, memperlihatkan destinasi yang lengang pengunjung, Minggu (9/5/2021). -Foto Henk Widi

“Destinasi wisata alam yang kami tawarkan tidak berpotensi menimbulkan kerumunan namun pengunjung yang datang hanya didominasi warga lokal, kemungkinan saat larangan mudik telah dicabut akan mempengaruhi kunjungan wisatawan,” terang Ardi Yanto saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (9/8/2021).

Ardi Yanto bilang destinasi wisata alam bisa jadi alternatif untuk menikmati suasana alam. Tawaran wisatawan yang akan menikmati suasana di Bukit Pematang Sunrise sebutnya sangat beragam. Suasana alam melihat perkebunan, hamparan tambak, vegetasi mangrove, laut dan pulau di Selat Sunda bisa dilihat dari Bukit Pematang Sunrise. Fasilitas camping ground, homestay juga telah disiapkan.

Strategi mendongkrak kunjungan wisata ke Bukit Pematang Sunrise sebut Ardi Yanto telah dilakukan. Memanfaatkan sarana media sosial Facebook, Instagram promosi gencar dilakukan. Namun lokasi wisata alam yang masih alami, belum memiliki akses jalan permanen berimbas pengunjung sepi. Faktor kebutuhan masyarakat jelang lebaran untuk prioritas lain jadi faktor penurunan kunjungan.

“Kebutuhan akan wisata merupakan pelengkap tersier sementara saat Ramadan jelang lebaran ada kebutuhan lain yang mendesak,” terang Ardi Yanto.

Ardi Yanto bilang ia memastikan belum menutup operasional objek wisata Pematang Sunrise. Sebab lokasi objek wisata berada jauh dari keramaian dan tidak berpotensi menimbulkan kerumunan. Meski sepi pengunjung ia menyebut wisatawan minat khusus masih datang. Wisata minat khusus diantaranya penyuka fotografi, berkemah dan keperluan untuk sesi pemotretan jelang pernikahan (prewedding).

Meski menerapkan protokol CHSE, destinasi wisata alam pantai juga masih terlihat lengang. Pantai Batu Putih salah satunya, destinasi bahari di pesisir Timur Lampung Selatan yang kerap ramai dikunjungi wisatawan terlihat sepi. Indah, salah satu pemilik usaha penjualan makanan dan minuman ringan menyebut selama ramadan kunjungan wisatawan sepi.

“Lokasi pantai yang panas membuat wisatawan hanya datang saat sore, namun jumlahnya juga berkurang,” bebernya.

Munculnya lokasi bersantai berupa cafe, wahana wisata alam buatan ikut mendorong penurunan kunjungan ke pantai Batu Putih. Kondisi tersebut justru dimanfaatkan oleh Tengku, salah satu wisatawan. Penyuka fotografi itu mengaku objek foto juga akan lebih menarik tanpa adanya wisatawan. Ia bahkan lebih menyukai objek destinasi foto pantai yang sepi tanpa kerumunan untuk bersantai.

Lihat juga...