Terdampak Pandemi, Petani Hortikultura di Sikka Minta Keringanan Kredit

Editor: Maha Deva

MAUMERE – Karena Terdampak pandemi COVID-19, petani hortikultura di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami keterpurukan. Dampaknya, petani tidak bisa mengangsur pinjaman dari bank.

“Kami pernah meminjam modal ke bank, namun dalam perjalanan saat panen terjadi pandemi Corona, sehingga kami mengalami kerugian dan tidak bisa mengangsur pinjaman,” sebut Eustakius Bogar, Ketua Kelompok Tani Sinar Bahagia, Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, saat ditemui di kebunnya Sabtu (22/5/2021).

Ketua Kelompok Tani Sinar Bahagia, Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, Eustakius Bogar, saat ditemui di lahan pertanian di desanya, Sabtu (22/5/2021) – Foto : Ebed de Rosary

Eus mengharapkan agar ada keringanan, mengingat kondisi ini terjadi di luar perkiraan. Ia mengaku meminjam Rp100 juta, dan saat ini masih tersisa setengahnya. “Kami bukannya tidak mau mengembalikan pinjaman, tetapi memang kondisinya di luar perkiraan. Kami tetap bekerja menanam hortikultura dan bila ada uang lebih kami mencicil pinjaman. Kami minta ada keringanan dari bank,” ucapnya.

Eus, menanam cabe dan tomat dalam skala besar, mencapai ribuan pohon. Namun pandemi yang terjadi di awal 2020, secara berbersamaan dengan waktu petani di kelompok tani sedang memasuki musim panen. Harga cabe dan tomat turun drastis, dan pedagang tidak berani membeli dalam jumlah banyak, sehingga petani mengalami kerugian. “Saat awal pandemi Corona saya mengalami kerugian hingga puluhan bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah, karena produk kami tidak terserap pasar. Namun kami tidak putus asa dan tetap menanam,” tandasnya.

Eus mengaku pernah bekerjasama dengan sebuah koperasi besar di Kabupaten Sikka, dengan memberikan bunga pinjaman 2 persen. Namun, dalam perjalanan terjadi kredit macet akibat pandemi Corona.

Petani sebanyak 20 orang, di Kelompok Tani Sinar Bahagia, mengharapkan bisa mendapatkan kredit tanpa agunan senilai Rp10 juta sampai Rp15 juta agar bisa bangkit lagi. “Kami para petani mengharapkan kredit tanpa agunan, agar bisa bangkit lagi menaman aneka produk hortikultura dalam jumlah besar agar bisa mengembalikan cicilan pinjaman di lembaga keuangan,” harapnya.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Manengah (Menkop UKM), Teten Masduki menyebut, lembaga keuangan perbankan maupun koperasi bisa memberikan kredit tanpa agunan bagi petani. Saat melakukan penanaman secara simbolis di lahan hortikultura milik KSP Kopdit Pintu Air di Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Teten menyebut, peluang usaha di sektor pertanian masih sangat besar. “Sektor pertanian masih terbuka lebar untuk digarap, karena masih banyak produk pertanian yang didatangkan dari luar NTT. Petani bisa mengakses kredit tanpa agunan di koperasi dan KUR,” tandasnya.

Lihat juga...