Tidak Kantongi Surat, Pelintas Batas di Sikka Disuruh Pulang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Dampak penutupan pintu perbatasan antar Kabupaten Sikka dan Flores Timur (Flotim) Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tanggal 6 Mei hingga 17 Mei mengakibatkan jalan negara Trans Flores Maumere-Larantuka tampak sepi dan puluhan pelintas batas terpaksa disuruh pulang.

Penjaga pos perbatasan, Briptu Yosefus Aprilianus, saat ditemui di pos pemeriksaan di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (12/5/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Sejak tanggal 6 Mei lalu memang jalan raya antar kabupaten ini sepi dari kendaraan. Setiap hari ada saja puluhan pemudik yang terpaksa disuruh putar balik,” kata penjaga pos perbatasan Briptu Yosefus Aprilianus, saat ditemui di pos pemeriksaan di Desa Hikong, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (12/5/2021).

Yosefus menyebutkan, pelintas batas dari Kabupaten Sikka yang hendak ke Kabupaten Flores Timur atau sebaliknya harus menyertakan surat keterangan dari pemerintah dan surat rapid antigen asli.

Dia sebutkan,akibat pengetatan ini pelintas batas yang tidak mengantongi surat tersebut terpaksa disuruh pulang ke tempat semula dan hanya pelintas batas yang memenuhi syarat saja yang diizinkan lewat.

“Banyak juga pengendara sepeda motor baik yang ingin pulang kampung atau yang hendak melakukan perjalanan terpaksa kami suruh putar balik.Setiap harinya ada hingga belasan orang yang harus putar balik,” sebutnya.

Yosefus menyebutkan, ada satu warga Kabupaten Sikka yang pulang dari Kabupaten Flores Timur tetapi tidak mengantongi surat rapid antigen disuruh kembali dan beliau melakukan rapid test di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang Flores Timur.

Setelah melakukan rapid test ternyata hasilnya reaktif dan saat mendatangi pos penjagaan dirinya mengakui hasil test tersebut dan meminta izin untuk pulang ke rumah.

“Tenaga medis langsung melakukan pendataan dan memintanya melakukan tes rapid antigen di Maumere. Satgas Covid-19 Kabupaten Sikka pun dihubungi sehingga bisa melakukan pemeriksaan dan treking serta meminta yang bersangkutan isolasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ferdinandus Dasi salah seorang pengendara yang ditanyai di Desa Boru mengaku tidak mengantongi surat rapid antigen sehingga dirinya terpaksa harus kembali ke Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur.

Ferdi sapaannya mengakui, dirinya hendak ke Kota Maumere untuk membeli onderdil sepeda motor untuk dijual namun karena dilarang melintas maka dirinya pun memilih kembali.

“Saya tidak mengetahui adanya larangan ini sehingga pergi saja. Ternyata memang ketat sekali penjagaan di pos perbatasan. Pantas saja jalanan sepi sekali dan tidak ada angkutan umum termasuk bus antar kota yang lewat,” ucapnya.

Disaksikan Cendana News di sepanjang jalan tidak ditemukan bus antar kota Maumere-Larantuka yang biasanya dalam sehari ada belasan bus serta travel yang hilir mudik mengantar penumpang.

Pengendara sepeda motor pun tidak dijumpai melintas kecuali bepergian di dalam wilayah Kabupaten Sikka atau Flores Timur termasuk juga angkutan pedesaan yang masih mengangkut penumpang.

Hanya terlihat truk pengangkut logistik serta pick up yang menjual ikan serta mobil angkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang hilir mudik ke Kota Maumere atau Larantuka.

Lihat juga...