Tiga Golongan Manusia

OLEH: HASANUDDIN

ALLAH AZZA WAJALLA menyampaikan di dalam surah Al-Waqi’ah bahwa ketika hari kiamat tiba, tidak ada lagi yang bisa mendustakannya.  Peristiwa dahsyat yang mengakhiri sistem kosmik itu, akan membagi manusia kedalam tiga golongan.

Golongan kanan atau ashabul yamin (on the right side) mereka ini adalah orang-orang yang telah meraih sesuatu dengan cara-cara yang benar (Maimanah). Golongan yang kedua adalah golongan kiri disebut ashabul masyaamah (on the left side), mereka ini orang-orang yang meraih sesuatu dengan cara menenggelamkan diri dalam kejahatan. (QS. Al-Waqi’ah (56): 1-7).

Dan golongan ketiga, dan ini disebut sebagai golongan yang terdepan, terbaik dari golongan manusia, disebut sebagai al-muqarrabuun (mukarrabiin) tidak di kanan, dan tidak di kiri, tapi mereka senantiasa dekat (kariib) di sisi Allah swt. Mereka ini selama ini menetap di dalam taman-taman kenikmatan (jannah), sejumlah besar dari orang-orang pada masa terdahulu, namun hanya sejumlah kecil dari orang-orang masa terkemudian.

Golongan Mukarrabiin ini disampaikan secara metafor dalam Al-Qur’an bahwa mereka ditempatkan di atas singgasana-singgasana kebahagiaan yang dilapisi emas, duduk bersandar/bersantai pada dipan-dipan saling berhadapan (dalam cinta), memperoleh pelayanan dari pemuda-pemudi yang tampan/cantik membawakan mereka minuman dari sloki berbentuk piala yang berasal dari mata air yang tidak ternoda; pikiran mereka senantiasa jernih, tidak mabuk oleh minuman yang disajikan; tersedia aneka buah-buahan dari jenis apapun yang mereka inginkan. Bersama mereka ada pendamping-pendamping nan suci yang bermata sangat indah, laksana mutiara yang masih tersembunyi dalam tempurungnya. Dan inilah menurut Allah, sebagai balasan atas apa yang telah mereka lakukan (semasa hidupnya). Di sana, mereka tidak akan mendengar perkataan yang tiada berguna, dan tidak pula ada ajakan untuk berbuat dosa, yang ada hanyalah kesejahteraan dan kedamaian batin. (QS. Al-Waqi’ah: (56): 9-26).

Sementara itu golongan orang-orang saleh, yang tadi disebutkan sebagai golongan kanan atau Maimanah, mereka juga akan mendapati diri mereka di antara pohon-pohon bidara yang lebat buahnya, ada akasia yang dipenuhi bunga, juga naungan (dari teriknya panas) yang terbentang luas, tersedia aneka pohon buah-buahan, yang senantiasa bisa dipetik buahnya dengan mudah. Juga bersama mereka pasangan mereka yang dimuliakan. (QS. Al-Waqi’ah (56): 27-34).

Pada hakikatnya golongan ashabul mainamah ini, adalah orang-orang saleh semasa hidupnya, dipertemukan dengan pasangan mereka dari kalangan orang saleh juga. Demikianlah yang disampaikan Allah pada ayat 34-40 pada surah Al-Waqi’ah, yang pada intinya Allah berkehendak menunjukkan bahwa Dia berkuasa membangkitkan kembali manusia sebagaimana yang telah disampaikannya pada ayat-ayat yang di dalam Al-Qur’anul Kariim.

Sementara itu golongan yang disebut masyamah, atau golongan kiri, mereka pada hari kebangkitan akan menemui diri mereka di tengah-tengah angin yang amat panas, tidak ada tempat bernaung, tidak yang bisa menolong, sehingga mengalami keputusasaan. Naungan mereka justru asap hitam, yang panas dan tidak menyejukkan.  Hal itu menurut Al-Qur’an karena semasa hidupnya mereka senantiasa memanjakan diri dengan mengejar kesenangan (hedonisme), mengerjakan dosa dan perbuatan keji, dan mengejek/memperolok-olok ayat-ayat Allah, terutama tidak mau menerima akan adanya hari kebangkitan. Mereka mengikuti persangkaan dalam ajaran keliru dari nenek moyang mereka terdahulu. (QS. Al-Waqi’ah (56): 41-48).

Peringatan Allah dengan menceritakan hal ihwal tentang manusia pada hari kebangkitan nanti, dimaksudkan agar manusia melakukan hal-hal yang sejalan dengan tuntutan Al-Qur’an. Hendaknya bagi tiap manusia menyadari kebesaran-Nya, dan tidak memandang remeh atas setiap firman-Nya.

Allah swt bersumpah pada ayat ke 75 dalam surah Al-Waqi’ah ini, tentang kemuliaan Al-Qur’an yang telah Allah turunkan secara bertahap, sebagian demi sebagian; bahwa ini benar-benar suatu penegasan yang tidak main-main atau penegasan yang sungguh-sungguh, andai saja manusia itu mengetahui kandungannya (Al-Qur’an).

Lihat juga...