Topang Ekonomi Kerakyatan, Pemkab Barito Kuala Kembangkan ‘Tanaman Surga’

BARITO KUALA  – Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan, telah mendorong pengembangan “tanaman surga” seperti anggur, kurma dan pohon tin untuk meningkatkan kinerja ekonomi kerakyatan di wilayah tersebut.

Anggota DPRD Kalsel, Karlie Hanafi Kalianda di Barito Kuala, Rabu, mengungkapkan saat ini pengembangan anggur sedang dilakukan di Desa Karya Maju, Antar Baru dan Desa Antar Raya, Kecamatan Marabahan.

“Meski sempat gagal karena dihantam banjir, tidak menyurutkan semangat jajaran Pemkab Barito Kuala mengembangkan tanaman anggur, karena mereka yakini berpotensi di lahan gambut berawa tersebut,” lanjutnya.

Ia mengapresiasi atas usaha dan kegigihan masyarakat atau pemerintah kabupaten yang berada di wilayah barat Kalsel berbatasan Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng) tersebut.

“Apalagi kawasan tersebut akan dijadikan sebagai agro wisata, dengan harapan dapat menggerakkan roda perekonomian Barito Kuala atau ekonomi kerakyatan setempat,” ujar Karlie Hanafi.

Camat Marabahan, Eko Purnama Sakti, mengatakan, pihaknya saat ini tengah berupaya keras mengembangkan tanaman anggur yang diyakini bisa memberikan nilai tambah positif untuk daerah.

“Dari hasil tanaman uji coba beberapa waktu lalu, anggur yang ditanam di Kawasan Agro Wisata Talaran Setara, dari segi kualitas tidak kalah dengan hasil yang dijual di pasaran,” ujarnya.

“Ke depan kalau memang hasilnya, yaitu dari segi kualitas dan kuantitas bagus, akan lebih dikembangkan untuk ditanam di lahan-lahan warga, termasuk di pekarangan rumah,” kata Eko Purnama.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Desa Karya Maju, Nurmanto, mengatakan lokasi agro wisata Talaran Setara yang masuk dalam wilayahnya, memiliki luas sekitar setengah hektare lebih.

Ia menerangkan, tanaman utama yang saat ini sedang mereka kembangkan adalah anggur, kurma dan buah tin.

“Untuk tanaman anggur yang terdahulu, karena banjir hanya ada empat batang yang bisa diselamatkan dan sudah berbuah yang ternyata hasilnya tidak kalah dengan yang dijual di pasaran,” katanya.

Setelah banjir berlalu, di lahan agro wisata Talaran Setara kembali ditanami sebanyak 200 batang anggur dan saat ini sudah mulai tumbuh subur.

“Diperkirakan pada bulan delapan nanti, anggur yang kami tanam mini sudah berbuah,” katanya.

Untuk pengembangan tanam anggur tersebut, pihaknya telah studi banding ke Malang, Jawa Timur (Jatim) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dikenal sebagai daerah dingin.

“Meski suhu di Malang dan Yogya dengan daerah kita berbeda, itu tidak menjadi penghalang, jenis anggur ratusan batang jumlahnya, yang saat ini dicoba dikembangkan adalah jenis Ninel, yang tampaknya cukup tahan dan bisa tumbuh subur di Barito Kuala,” jelasnya.

Tanam anggur, kurma dan buah tin sangat mendukung keberadaan agro wisata Talaran Setara, karena keberadaannya menjadi momen yang membuat masyarakat penasaran.

“Warga yang datang ke kawasan agro wisata Talaran Setara bisa mencapai 600 orang perhari, karena penasaran ingin melihat pohon-pohon yang kita tanam, dan tentu saja hal itu bisa menjadi kebanggaan dan menjadikan nilai tambah untuk daerah ini, nantinya,” katanya.

Selain anggur, tin dan kurma yang saat ini sudah berhasil dikembangkan di lokasi agro wisata itu adalah berbagai jenis bunga, jeruk, kelinci dan burung merpati, juga madu kelulut serta sereh wangi.

Barito Kuala merupakan daerah pertanian pasang surut juga sebagai lumbung padi Kalsel setelah Kabupaten Banjar yang terkenal dengan “kindai limpuar”-nya. Kindai berarti tempat menyimpan padi terbuat dari anyaman bambu, dan limpuar artinya isi yang menunjukkan melebihi daya tampung.

Daerah pertanian pasang surut Barito Kuala merupakan penerima program transmigrasi, pemekaran dari Kabupaten Banjar pada awal tahun 1960-an. (Ant)

Lihat juga...