Tujuan Pendidikan Membangun Karakter dan Keadaban

Editor: Koko Triarko

Deputi Koordinasi bidang Pendidikan dan Agama, Kemenko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Prof. DR. R. Agus Hartono, MBA., dalam seminar nasional pendidikan yang digelar oleh kolaborasi FKIP Universitas Kristen Indonesia, FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan FKIP Universitas Kristen Satyawacana Salatiga, Kamis (27/5/2021). –Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Sistem pendidikan Indonesia harus bisa menghasilkan generasi mendatang yang tidak hanya cerdik pandai, tapi juga harus berkarakter dan beradab. Dua aspek ini harus bisa terpenuhi untuk dapat menjawab tantangan perkembangan zaman. 

Deputi Koordinasi bidang Pendidikan dan Agama, Kemenko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Prof. DR. R. Agus Hartono, MBA, menyampaikan bahwa membicarakan pendidikan tidak pernah berubah. Yang berubah hanya fokusnya saja.

“Kalau berbicara tentang pendidikan, yang harus ditekankan adalah tujuan pendidikan tersebut. Yaitu, sebagai suatu rekayasa sosial yang terencana untuk membentuk karakter dan membangun keadaban. Supaya generasi mendatang kita itu beradab dan berkarakter. Bukan hanya cerdik pandai saja. Inilah yang harus kita tanamkan pada semua peserta didik untuk menciptakan generasi emas di 2045,” kata Agus, dalam seminar nasional pendidikan yang digelar oleh kolaborasi FKIP Universitas Kristen Indonesia, FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan FKIP Universitas Kristen Satyawacana Salatiga, Kamis (27/5/2021).

Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Prof. Dr. H. Partimin, M.Pd., PhD., dalam seminar nasional pendidikan yang digelar oleh kolaborasi FKIP Universitas Kristen Indonesia, FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa dan FKIP Universitas Kristen Satyawacana Salatiga, Kamis (27/5/2021). –Foto: Ranny Supusepa

Dan, bukan hanya pada pendidikan sektor formal saja, katanya, tapi juga pendidikan informal dan pendidikan nonformal di semua jenjang.

“Setiap kita harus menjadi pribadi yang terus belajar sepanjang hayat, mengembangkan keadaban yang sesuai perkembangan teknologi dan zaman, melalui pengadaan infrastruktur pendidikan, rumah dan ruang publik yang mendukung pengembangan karakter dan keadaban serta pengadaan konten pendidikan yang didukung penuh oleh pembiayaan,” ucapnya.

Penduduk Indonesia hingga September 2020 adalah 270,20 juta jiwa, bertambah 32,56 juta dari tahun 2010, yang mayoritasnya adalah generasi Z yang lahir pada kurun 1997-2012 sebanyak 27,94 persen dan generasi Milenial yang lahir pada kurun 1981 hingga 1996 sebanyak 25,87 persen.

“Dengan persentase tersebut, terlihat pada 2020 ada penduduk produktif, 15-64 tahun, sebesar 70,72 persen, yang artinya Indonesia berada pada era bonus demografi,” urainya.

Sehingga pada 2045, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 318 juta penduduk.

“Artinya, akan dibutuhkan akses pendidikan semua jenjang yang sangat besar dan akan ada potensi anak-anak putus sekolah yang bisa terjadi, tanpa adanya persiapan sistem pendidikan yang tepat,” kata Agus.

Ia menegaskan, bahwa proses pendidikan itu tak bisa dilakukan dalam jangka waktu singkat.

“Pendidikan itu sudah harus dimulai sejak anak lahir hingga ia menyelesaikan pendidikan tinggi. Tak bisa simsalabim dalam waktu 2-3 tahun. Paling cepat, sekitar 16 tahun,” ujarnya.

Harus diingat, bahwa makin berkembangnya teknologi maka lapangan kerja di masa depan juga akan berubah.

“Menurut data, 84 persen jabatan pekerjaan di dunia akan digantikan oleh mesin canggih dan 50 persen jabatan pekerjaan di dunia akan menggunakan otomasi. Artinya, akan ada sekitar 97 juta pekerjaan baru dalam lima tahun ke depan, sehingga paling tidak ada 50 persen pekerja yang membutuhkan re-skilling dan 40 persen lainnya perlu untuk mengganti skill,” tandasnya.

Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Prof. Dr. H. Partimin, MPd, PhD, mengharapkan dengan adanya seminar nasional ini bisa memberikan jawaban atas berbagai permasalahan yang muncul dalam dunia pendidikan Indonesia.

“Karena apa yang kita rencanakan dalam pendidikan saat ini, baru terlihat dampaknya 10 tahun ke depan atau lebih. Sehingga dibutuhkan kehati-hatian dalam merencanakannya,” ucapnya dalam kesempatan yang sama.

Ia mencontohkan, para siswa saat ini sudah tidak mengenal tokoh sejarah. Seperti Sultan Agung maupun Tjut Nyak Dien. Para siswa lebih mengenal tokoh publik.

“Hal ini menunjukan kelemahan dalam bidang pembelajaran sejarah. Atau hal lainnya, masalah peta. Mahasiswa saja lemah dalam memahami peta, misalnya arah mata angin. Dan, ini merembet ke ilmu bumi yang juga lemah,” ucapnya lagi.

Menentukan materi pembelajaran sangatlah penting dalam menciptakan generasi mendatang Indonesia.

“Masa depan bangsa ini di tangan para pemegang rumusan, perencana dan pelaksana pendidikan saat ini. Sehingga jangan sampai salah dalam merumuskan dan menyusun kebijakan,” pungkasnya.

Lihat juga...