Upaya Indonesia Capai Nett Zero Emissions Masih Temui Berbagai Kendala

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Upaya Indonesia dalam mencapai target nett zero emision dinilai susah untuk dicapai, jika tidak ada kemauan dari semua pihak terkait untuk mengambil langkah baru. Saat ini, Indonesia seperti jalan ditempat dalam memutuskan, apakah mempercepat akselerasi energi terbarukan atau tetap bertahan di energi fosil.

Deputi bidang Koordinator Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenkomarves, Basilio D Araujo menyatakan, sesuai dengan komitmen Indonesia dalam mencapai target nett zero emission, pihaknya menyusun kebijakan yang merespon kebutuhan masyarakat dan investasi.

“Memang saat ini, Indonesia masih berada dalam persimpangan jalan. Di satu sisi ada pihak yang masih bertahan dengan energi fosil yang tarik ulur dengan sisi yang sudah ingin bergerak dengan energi terbarukan. Tapi, Kemenkomarves dan grand strategy ESDM menunjukan bahwa Indonesia akan maju menuju investasi hijau,” kata Basilio, saat dihubungi, Rabu (26/5/2021).

Pilihan ini, lanjutnya, merupakan langkah yang memang harus diambil. Karena semua negara sudah menerapkannya.

“Pasar sudah terbentuk. Masyarakat dan investor sudah menjadikan lingkungan sebagai pertimbangan dalam menjalankan usaha atau memilih produk atau berinvestasi. Jika Indonesia tidak ikut dalam arus ini, maka Indonesia akan tertinggal,” ujarnya.

Basilio menegaskan jika Indonesia ingin mengakselerasi pemanfaatan energi terbarukan maka tidak bisa tidak semua pihak harus mulai mengambil langkah yang sama.

“Misalnya dalam kasus pengembangan PLTS Atap, targetnya 2.157 GW. Tapi target sasarannya masih pada sektor yang kecil. Yaitu gedung pemerintah yang hanya 73,25 MW serta bangunan dan fasilitas BUMN sebesar 742 MW. Target besarnya yaitu Industri dan Bisnis sebesar 624,2 MW serta rumah tangga sebesar 648,7 MW belum tergarap,” ujarnya lagi.

Ia juga menyebutkan, secara regulasi, untuk pengembangan energi terbarukan sangat terbuka.

“Sesuai dengan UU 23 Pemda, dimungkinkan untuk kerja sama pemda dengan pihak swasta. Kita tinggal panggil pemda lalu perusahaan daerah untuk mengembangkan. Tapi kan dari ESDM-nya yang masih konsep semua,” tuturnya.

Basilio meminta semua pihak untuk Thinking Outside the Grid. Jangan hanya berpatokan pada konsep yang lama.

“Australia sedang merencanakan untuk menarik kabel dari Singapura. Kita masih saja memperdebatkan apakah bisa menarik kabel dari Sumatera ke Jawa,” tandasnya.

Secara terpisah, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Darma menyampaikan, kendala yang dihadapi energi terbarukan adalah harga.

“Harga listrik dari energi terbarukan sangat bergantung pada jenis teknologi, ukuran kapasitas pembangkit dan kelengkapan infrastruktur. Berdasarkan hal itu, saya bisa sampaikan, harganya belum sesuai dengan harapan pengembang,” ungkapnya.

Selain harga, Surya juga menyebutkan bahwa ketidaktarikan pengembang untuk mengembangkan energi terbarukan juga karena aturan PPA yang tidak bankable. Sehingga penting untuk merevisinya dengan perpres.

“Harga listrik energi terbarukan dalam perpres yang akan diterbitkan, dikelompokkan dalam kapasitas tertentu. Ada yang diberlakukan Feed in Tariff untuk kapasitas kecil dan ada juga harga sesuai tender,” pungkasnya.

Lihat juga...