Usaha Kecil Berbasis Singkong Tingkatkan Nilai Tambah Warga Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Peningkatan nilai jual produk pertanian menjadi hasil olahan ditekuni sebagian warga untuk mendapat penghasilan. Salah satunya dari bahan baku singkong yang diolah menjadi kerupuk opak, mangleng, keripik, gaplek hingga tiwul.

Tri Handayani, warga Desa Sidorejo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan menyebutkan, semula harga produk pertanian singkong segar maksimal dijual seharga Rp3.000. Pada jenis singkong Thailand bahan tepung tapioka harga bahkan hanya di bawah Rp1.000 per kilogram.

Belajar dari sang ibu sebagai warisan tradisi pengolahan singkong, sejumlah produk dihasilkan. Opak kering yang siap digoreng pada level produsen dijual Rp13.000 per kilogram.

“Saya tidak perlu menjual ke pasar cukup memanfaatkan jejaring pertemanan dan memakai alat komunikasi telepon genggam pemesan datang, produksi dibantu oleh suami dan anak mulai pengolahan hingga pengeringan,” terang Tri Handayani saat ditemui Cendana News, Selasa (25/5/2021).

Tri Handayani bilang pengolahan produk berbahan singkong jadi bagian usaha kecil yang tetap eksis. Ia mengaku dengan modal kecil berkisar Rp1 juta untuk bahan baku ia bisa mendapat omzet sekitar Rp2 juta. Keuntungan bersih sekitar Rp600 ribu masih bisa diperolehnya dari usaha tersebut.

Meski memakai modal sendiri, Tri Handayani mengaku tetap bisa bertahan. Keberadaan petani singkong di wilayah Sidomulyo hingga kecamatan lain ikut mendukung sektor usahanya, karena tidak pernah kekurangan bahan baku. Kondisi cuaca panas ikut mendukung proses pengeringan.

“Peningkatan kualitas bahan baku ikut meningkatkan nilai jual sehingga singkong lebih bernilai tambah bagi warga pedesaan,” ulasnya.

Proses pengolahan opak sebutnya dilakukan dengan memarut, mengukus dan mencetak. Selanjutnya dikeringkan memakai alas plastik memanfaatkan sinar matahari.

Pemanfaatan singkong menjadi nasi tiwul meningkatkan nilai jual singkong bagi Slamet di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Selasa (25/5/2021). Foto: Henk Widi

Pengolah lainnya Slamet, di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni menyebut singkong jadi bahan pangan kaya manfaat. Melalui proses pengolahan tepat seperti dibuat gaplek dan nasi tiwul akan memberi nilai tambah dan bisa mencapai Rp10.000 per kilogram.

Slamet menyebut, olahan produk singkong juga bisa menjadi beragam kulier. Sejumlah warga mengolahnya menjadi cenil, gethuk lindri. Kreativitas dalam membuat olahan juga didukung oleh pasar Bakauheni dan pelabuhan Bakauheni.

Sebagian produk olahan singkong jenis tiwul sebut Slamet dijual ke wilayah Banten. Letak geografis wilayah Bakauheni ke Banten yang dihubungkan dengan Selat Sunda mempermudah distribusi produk.

Sejumlah produk seperti gaplek, tiwul dikirim bersama produk pertanian lain. Dukungan lapak penjualan milik sang anak membuat rantai distribusi dan pemasaran memperlancar penjualan produk berbahan singkong.

Lihat juga...