Usaha Kuliner di Flotim Alami Penurunan Pendapatan

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Bisnis kuliner di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi Covid-19.

 “Sekarang ini bisnis penjualan makanan memang ada penurunan pendapatan selama masa pandemi Corona,” kata Lusiana da Gomez, warga Kelurahan Lohayong, Kota Larantuka, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (15/5/2021).

Nona Gomez sapaannya menyebutkan, sebelum pandemi Corona, rata-rata per minggu bisa mendapatkan keuntungan Rp1,8 juta hingga Rp2 juta tetapi selama pandemi keuntungan menurun drastis hingga Rp500 ribu seminggu.

Meski begitu kata dia, pembeli tetap saja ada termasuk para pelanggan tetap namun porsi pemesanan pun sedikit berkurang akibat kesulitan keuangan yang dialami oleh masyarakat.

“Saya membuka usaha di rumah di mana setiap pagi dan sore hari selalu saja ada yang memesan makanan berbahan ikan untuk dimasak. Saya juga bisa menjual aneka menu masakan berbahan ikan melalui media sosial,” ujarnya.

Lusiana da Gomez, warga Kelurahan Lohayong, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (15/5/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Nona Gomez menyebutkan, sebelum Covid-19 pesanan mengalir rutin saban hari sehingga dirinya harus memasak ekstra untuk dijual secara rutin setiap hari di rumah dan melayani pesanan pelanggan.

Ia menyebutkan, semua pesanan diantar langsung ke rumah pembeli yang berada di Kota Larantuka dan setiap menu rata-rata dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal mengingat daya beli masyarakat juga menurun.

“Selama pandemi Covid-19 pembuatan menu disesuaikan dengan permintaan pembeli. Setelah pembeli memesan menu yang saya tawarkan baru saya masak dengan porsi sesuai dengan pesanan,” ucapnya.

Nona Gomez menambahkan, meskipun pesanan menurun tapi setiap hari terutama saat pagi dan sore hari dirinya tetap memasak nasi kuning dan kuliner lainnya untuk dijual di rumahnya.

Warga Kota Larantuka lainnya, Maria Dalena saat ditanyai pun mengakui saat ini bisnis masakan sedang sepi selama masa pandemi Corona apalagi selama  seminggu libur hari raya Idul Fitri.

Maria menyebutkan, rata-rata pembeli terbanyak kuliner berasal dari pegawai pemerintah tetapi akibat banyak pegawai yang mengalami keterlambatan pembayaran gaji membuat perputaran uang pun sulit.

“Sekarang ini pendapatan dari bisnis kuliner memang sedang sepi akibat dampak pandemi Corona namun setiap hari selalu saja ada pembeli. Lumayan untuk bisa menambah pemasukan meski penurunan pendapatan bisa mencapai lebih dari setengahnya,” ucapnya.

Lihat juga...