Warga: Pak Harto tak Pernah Mau Gadaikan Negara

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Selain diikuti sejumlah pelaku seni dan perupa di Yogyakarta, aksi moral melukis sosok Presiden Soeharto sambil  berjalan kaki pada peringatan 100 Tahun Presiden Soeharto, Minggu (30/5) kemarin, juga diikuti sejumlah warga biasa yang datang secara spontan. 

Salah satu warga, Ahmad Husni (59), warga kampung Kadipeten Kidul, Kraton, Yogyakarta, bersama istrinya ikut berjalan kaki sepanjang 15 kilometer, mengikuti pelukis Ki Joko Wasis menuju Museum HM Soeharto di dusun Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul.

Ditemui di sela acara, Ahmad Husni yang merupakan pensiunan dosen dan pengacara ini mengaku sangat antusias begitu mengetahui ada sejumlah seniman yang mengapresiasi peringatan 100 tahun Presiden Soeharto, dengan melakukan aksi moral melukis sambil berjalan kaki.

“Saya tetangga Ki Joko Wasis. Begitu tahu akan ada aksi ini saya langsung minta izin untuk ikut. Karena sejak dulu saya memang suka lari. Sering ikut acara lari sampai 15 kilometer. Bagi saya, sehat itu ukurannya dari kaki. Karena lari atau jalan kaki itu menurut saya sebuah terapi,” ungkapnya.

Ahmad Husni juga mengaku memiliki ikatan emosional tersendiri dengan Presiden Soeharto. Pada 1985, ia bahkan mengaku pernah diundang ke istana negara Jakarta untuk bertemu langsung dengan alm Presiden Soeharto.

“Saat itu saya terpilih sebagai mahasiswa teladan mewakili Perguruan Tinggi Swasta dari wilayah Kopertis V Yogyakarta. Saya datang ke Istana bersama lurah teladan, bidan teladan, sopir teladan, dan banyak lainnya. Itulah yang membuat saya bangga. Apalagi, saat itu Pak Harto dengan ramah menyapa semua yang hadir.  Sehingga pengalaman itu begitu melekat,” ungkap mantan mahasiswa fakultas hukum UII ini.

Bagi Ahmad Husni, banyak hal yang bisa diteladani dan diwariskan dari sosok Presiden Soeharto selama menjabat sebagai Presiden ke dua RI. Bahkan, menurutnya belum ada pemimpin Indonesia yang mampu melebihi Pak Harto, kecuali Presiden Proklamator Soekarno.

“Pada momentum peringatan 100 tahun Pak Harto ini, saya ingin mendoakan agar semua amal kebaikan beliau semasa hidup dapat diterima Tuhan YME. Serta menjadikan beliau sebagai panutan sekaligus sumber inspirasi bagi seluruh elemen bangsa, termasuk generasi muda,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Husni, di masa kepemimpinan Pak Harto, tak bisa dipungkiri proses pembangunan Indonesia berjalan bagus. Kesejahteraan masyarakat juga begitu terlihat. Hal itu jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Di mana masih banyak masyarakat yang hidup serba sulit dan jauh dari sejahtera.

“Tak hanya itu saja, menyangkut nasionalisme Pak Harto juga sangat luar biasa. Beliau itu sosok yang tidak pernah ingin menggadaikan negara. Dan, rasa nasionalisme itu terbentuk sampai masyarakat tingkat bawah. Karena itu, saya sangat merindukan sosok seperti Pak Harto,” pungkasnya.

Lihat juga...