Wiwitan, Tradisi Petani Jelang Panen Mulai Tergerus Zaman

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Puluhan tahun silam tradisi sebelum panen dengan membuat sesaji oleh petani di sawah masih kerap dilakukan. Kearifan lokal masyarakat berprofesi sebagai petani untuk ungkapan syukur itu bahkan nyaris punah.

Bonimin, petani warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut nyaris tidak ada lagi petani melakukan wiwitan.

Bonimin bilang wiwitan berasal dari arti kata wiwit atau awal. Secara harfiah makna itu diartikan sebagai waktu jelang panen. Namun bagi petani wiwitan mengandung intisari dari kehidupan akan adanya pemberi awal segala yang ada di bumi. Ungkapan yang dilakukan dengan rasa syukur pemberi kehidupan bagi petani padi. Tumbuhnya tanaman padi sejak dirawat hingga panen merupakan campur tangan Pencipta.

Tradisi wiwitan yang mulai tergerus zaman imbas modernisasi tidak menghalangi Bonimin melakukan wiwitan. Ia tetap melakukan kearifan lokal itu sebagai ungkapan syukur kepada Purwaning Dumadhi atau pemberi kehidupan. Dahulu kala bagi petani sang penjaga dan perlambang akan padi adalah Dewi Sri. Namun ia menyebut Tuhan Yang Maha Esa yang memberi rezeki melalui bulir padi.

“Hasil bumi yang petani peroleh akan dikembalikan dalam bentuk sesaji atau sajen dengan harapan bahwa rasa syukur manusia tersebut akan berbuah manis pada masa tanam berikutnya, ungkapan syukur masih diberi kesempatan untuk mendapatkan hasil panen,” terang Bonimin saat ditemui Cendana News, Minggu (9/5/2021).

Segala jenis makanan pelengkap yang akan digunakan untuk tradisi wiwitan didoakan oleh Bonimin (kanan) dan Karyono, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Minggu (9/5/2021). -Foto Henk Widi

Ungkapan atau simbol yang disiapkan menurut Bonimin cukup beragam. Ia mempersiapkan ugo rampe berupa nasi putih, sayur urap atau kuluban, lauk ikan asin, tempe, telur. Makanan yang digunakan dalam wiwitan sebutnya akan diberi tambahan sambal gepeng. Selain makanan pelengkap yang digunakan berupa bunga warna warni, sirih, uang kertas, rokok, kopi, teh. Sebagian sesaji akan ditempatkan di lokasi khusus.

Lokasi khusus menempatkan sesaji terang Bonimin berada pada tulakan banyu. Tulakan banyu merupakan aliran pertama yang berasal dari sungai simbol asal kehidupan tanaman padi bermula. Air yang memberi kehidupan sejak proses uritan, tandur hingga masa panen. Sarana fisik sesaji menurutnya simbol pemberian kepada alam karya sang Pencipta.

“Saat menempatkan sesaji pada tulakan banyu akan dilakukan penyalaan kemenyan sebagai ungkapan kiriman doa pada pencipta,” cetusnya.

Selain pada tulakan banyu, sesaji akan ditempatkan pada empat penjuru mata angin. Setelah menempatkan sesaji ia akan melakukan proses makan bersama. Makan bersama dilakukan melibatkan petani lain yang ikut membantu proses panen. Hidangan yang dipersiapkan berupa nasi lengkap dengan lauk ayam, tempe, ikan asin dan sambal gepeng. Sambal gepeng merupakan campuran kedelai, garam dan cabai yang lezat.

Tradisi wiwitan sebutnya mulai luntur menyesuaikan zaman. Namun ia mengaku bagian dari kultur agraris juga menyesuaikan agama yang dianut. Sebagai pemeluk agama Katolik semua sarana yang dipersiapkan dalam wiwitan akan didoakan. Hasil dari proses wiwitan berupa panen melimpah sebagian merupakan hak atau milik pencipta. Wujudnya dilakukan dengan memberi persembahan pada gereja.

“Hasil panen yang telah diperoleh selanjutnya akan dijual dan bisa dipergunakan untuk persembahan gereja,” tuturnya.

Petani lain bernama Umar Said di Desa Tanjung Heran menyebut wiwitan masih dilakukan. Ia menyebut dahulu setiap melakukan wiwitan ia akan mengajak serta anak-anak. Sebab kegiatan wiwitan menjadi hal menyenangkan bagi anak. Mengajak anak ke sawah untuk menikmati makanan yang diolah menjadi ungkapan syukur. Meski demikian wiwitan hanya dipertahankan sebagian petani termasuk dirinya.

Lihat juga...