Ziarah Kubur Jadi Berkah Lebaran Bagi Pedagang Bunga di Semarang

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Bagi Partini, datangnya Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk meraup untung dari berjualan bunga tabur. Ya, pada H-1 hingga H+3, masyarakat banyak yang melakukan ziarah kubur untuk mendoakan sanak saudara mereka.

Saat pergi ke makam, mereka dipastikan membawa sekantong bunga mawar tabur yang nantinya akan disebarkan di atas makam sanak saudara mereka. Kebutuhan bunga tabur yang tinggi ini, menjadi peluang bagi Partini dan pedagang bunga tabur lainnya untuk mencari rezeki.

“Hari ini ada banyak yang membeli bunga tabur untuk ke sarean (ziarah-red). Biasanya paling ramai H-1 dan besok pas Lebaran hari pertama, banyak masyarakat yang ziarah kubur,” paparnya saat ditemui di Pasar Jatingaleh, Semarang, Rabu (12/5/2021).

Pada saat-saat seperti ini, para pedagang bunga tabur mremo, dengan memanfaatkan momen Lebaran untuk berjualan dengan harga yang relatif lebih tinggi dari hari-hari biasanya.

“Ya harganya pasti beda dengan hari-hari biasanya, untuk sebakul plastik bunga tabur dengan kelopak utuh ditambah rajangan (potongan halus-red) daun pandan dijual Rp20 ribu. Tidak bisa kurang. Namun kalau mau beli Rp10 ribu bisa, tapi dapatnya bunga yang sudah terurai, tidak yang masih kelopak utuh,” terangnya.

Berjualan sejak pagi, hingga menjelang petang, wanita asal Bandungan Kabupaten Semarang tersebut mampu menjual setidaknya 100-an bakul plastik bunga tabur.

“Sekali beli tidak hanya satu bakul plastik, ada yang 2-3 bakul. Jadi, seharian ini lakunya cukup banyak. Untungnya, bisa untuk lebaran di rumah,” tambahnya lagi.

Hal senada juga disampaikan Zubaidah, pedagang bunga tabur lainnya. H-1 Lebaran menjadi waktu puncak pembelian bunga tabur, sehingga dalam sehari ini, dirinya bisa menjual puluhan bakul bunga tabur.

“Ada yang beli sekarang dipakai langsung untuk ziarah, ada juga yang masih disimpan buat besok pagi (Kamis-red). Namun mereka banyak yang beli sekarang, kalau besok kan sudah lebaran, jadi pedagang juga libur,” terangnya.

Diakuinya, meski penjualan bunga tabur tidak seramai tahun lalu, namun dirinya tetap bersyukur masih banyak pembeli yang mampir.

“Apalagi kan sekarang mudik dilarang, mereka yang dari luar kota, yang biasanya juga beli bunga tabur jadi berkurang. Jadi, tetap disyukuri,” lanjutnya.

Terkait harga, dirinya mengaku tidak menaikkan, sama dengan tahun lalu. “Namun kalau dibanding hari biasa, ya pasti beda, lebih mahal, namanya juga Lebaran. Kulakan (pembelian-red) dari petani juga sudah mahal, jadi menyesuaikan,” tandasnya.

Dirinya mencontohkan, untuk sebakul plastik bunga tabur kelopak utuh Rp20 ribu, sementara yang sudah terurai, pembeli bisa memilih sesuai dengan uang yang dimiliki. Bisa Rp5 ribu atau Rp10 ribu.

“Jika hari-hari biasa, sebakul plastik ini hanya Rp10 ribu, yang terurai masih sama Rp5ribu-Rp 10 ribu, namun dapatnya lebih banyak dibandingkan saat ini,” jelas Zubaidah lebih rinci.

Sementara salah seorang pembeli, Nining, mengaku membutuhkan bunga tabur tersebut untuk berziarah ke makam orang tuanya, sehingga dirinya pun tidak keberatan dengan harga mremo yang ditawarkan pedagang.

“Jadi memang butuh, meski mahal ya tetap dibeli karena perlu. Tidak apa-apa, tidak setiap hari harganya mahal, hanya pas lebaran saja. Rezeki buat yang jualan bunga tabur,” pungkasnya.

Lihat juga...