431 ODHA di Sikka Rutin Konsumsi Obat ARV

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE – Sebanyak 431 Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), rutin mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) yang diberikan secara gratis oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sikka.

“Kami bekerja sama dengan Klinik VCT Sehati di RS TC Hillers Maumere secara rutin membagikan obat ARV kepada 431 ODHA,” kata Sekretaris KPA Sikka, Yohanes Siga saat dihubungi, Jumat (11/6/2021).

Yan sapaannya menjelaskan, obat ARV yang diberikan tersebut harus diminum oleh ODHA sebanyak 2 kali dalam sehari agar daya tubuh mereka yang tertular tersebut bisa bertambah.

Sekretaris KPA Sikka, Yohanes Siga saat ditemui di kantornya di Jalan Achmad Yani,Kota Maumere, Selasa (8/6/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia menyebutkan, pemberian obat ARV kepada ODHA serta berbagai program yang dilakukan untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk mewujudkan target Kabupaten Sikka bebas HIV dan AIDS di tahun 2030.

“Untuk mewujudkan Sikka bebas HIV dan AIDS maka perlu dilakukan tes HIV sebelum pasangan menikah. Bayi yang lahir diharapkan tidak tertular HIV dari sang ibu sehingga perlu ada tes sebelum menikah,” ucapnya.

Yan menambahkan, pihaknya langsung memberikan obat bila menemukan kasus HIV dan AIDS sehingga bisa menekan angka kematian warga yang tertular penyakit ini.

Ia mengimbau agar masyarakat jangan memberikan stigma kepada ODHA dan mendukung mereka agar bisa menjalankan aktivitas keseharian mereka termasuk mendorong mereka mengkonsumsi obat.

“Kami di KPA Sikka menerapkan jurus STOP yang merupakan singkatan dari Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan. Kita harus bekerja sama agar kasus HIV dan AIDS di Sikka bisa hilang,” harapnya.

Sementara itu, Pengelola Program KPA Sikka Yakobus Ernesto Kalla menyebutkan, untuk mencegah penularan HIV dan AIDS pihaknya membentuk wadah Warga Peduli AIDS (WPA) di tingkat desa dan kelurahan.

Jack sapaannya, mengatakan, hingga bulan Mei 2021 pihaknya telah membentuk 50 WPA dan yang aktif sebanyak 40 WPA yang tersebar di 12 kecamatan dari 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka.

“Pembentukan WPA ini dimaksudkan agar warga bisa berperan aktif membantu penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Sikka. Warga harus berperan aktif dalam mencegah terjadinya penularan,” sebutnya.

Jack menambahkan, warga yang tergabung dalam WPA membuat sendiri langkah-langkah yang akan dilakukan di wilayah desa atau kelurahan mereka agar kasus HIV dan AIDS di wilayahnya bisa dihilangkan.

Lihat juga...