Adaptasi Digital Cara Pedagang Bertahan di Tengah Persaingan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Tren masyarakat melakukan kegiatan belanja secara online melalui e-commerce, sedikitnya menggusur penjualan pasar offline. Guna menghindari dampak tersebut, sejumlah pedagang di Bandar Lampung pun melakukan adaptasi dan elaborasi.

Handayani, pedagang pakaian anak-anak dan dewasa di Pasar Bambu Kuning, Jalan Imam Bonjol, Tanjung Karang, Bandar Lampung, mengaku pernah mengalami anjloknya omzet penjualan yang menurutnya disebabkan oleh munculnya platform jual beli online yang menjamur.

Belajar dari pengalaman itu, ia tak sungkan melakukan adaptasi. Platform jual beli online yang bisa diakses dengan smartphone menjadi pilihannya. Sejumlah platform dicobanya, melihat peluang dan kemudahan dalam transaksi.

Adaptasi dilakukannya dengan membuat toko online di salah satu platform jual-beli daring. Akun toko online yang telah terverifikasi membuat ia bisa memajang sejumlah pakaian. Hasilnya, transaksi online mendukung transaksi offline yang tetap dijalankannya.

Nova Utari (kanan), salah satu pemilik usaha minuman tradisional di Jalan Ratu Dibalau, Tanjung Senang, Bandar Lampung menerima pesanan dan pembayaran online, Selasa (29/6/2021). -Foto: Henk Widi

Ia bahkan mendapat fasilitas paylater atau kredit lunak setelah masuk level silver. Pinjaman lunak berbentuk uang digital hingga Rp15juta diperolehnya saat naik level platinum.

“Kuncinya saat adaptasi dari toko offline ke online, jangan malas belajar dan melihat peluang, jumlah transaksi online dari pembukuan lebih banyak daripada offline, namun keduanya menjadi peningkat omzet mingguan hingga bulanan, karena tren masyarakat jadi pangsa pasar yang potensial,” terang Handayani, saat ditemui Cendana News, Selasa (29/6/2021).

Handayani bilang, fasiltas paylater digunakan olehnya untuk menambah modal usaha. Berbentuk uang digital, dipergunakan untuk belanja sejumlah model pakaian baru. Margin keuntungan saat menjual pakaian secara offline, masih bisa diperoleh. Ia juga melalukan elaborasi atau penggarapan secara cermat dan tekun pada usahanya.

Meski tren belanja online menjadi tren, katanya, sejumlah pelanggan tetap membeli secara offline. Sebagian pelanggan ada yang memilih membeli barang yang bisa dicoba. Ukuran, warna dan corak pakaian saat membeli online kerap tidak sama. Peluang itu masih menjadi keuntungan dengan adanya konsumen yang datang ke toko.

“Konsumen saat ini mulai melek literasi belanja digital, namun tetap membeli secara offline,” ulasnya.

Handayani mengaku, omzet penjualan dari adaptasi dan elaborasi  layanan offline to online (OTO), berkisar Rp5juta hingga Rp7juta per minggu. Jumlah itu relatif menurun dibanding sebelum pandemi Covid-19.

“Daya beli masyarakat yang menurun menjadi salah satu faktor penyebab,” kata Handayani, sambil menambahkan, bahwa ia menggunakan pembayaran digital berbasis QRIS dan cash.

Sementara itu Nurul Hasanah, salah satu konsumen, menyebut adaptasi online juga dilakukan oleh pembeli. Ia kerap melihat sejumlah model pakaian di toko online. Memanfaatkan fasilitas gratis ongkos kirim pada platform jual beli online lebih mudah. Namun, ia tetap berbelanja secara offline untuk sejumlah barang yang akan digunakan dengan ukuran tepat.

“Pengalaman belanja online kerap lama pengiriman, ukuran tidak pas sehingga belanja offline tetap jadi pilihan,” ungkapnya.

Adaptasi dan elaborasi juga dilakukan Mang Udin di usaha kuliner. Memiliki usaha penjualan minuman kelapa muda, ia memiliki lokasi strategis di Pasar Mangga Dua, Teluk Betung. Usaha kuliner miliknya yang menyediakan sekitar 200 hingga 500 butir kelapa, semula hanya memanfaatkan transaksi offline. Namun, sejumlah marketing dari penyedia jasa layanan uang digital menawarkan Quick Response Code Indonesian Standart (QRIS).

“Awalnya bingung, tapi ada sang anak, adaptasi awalnya sulit tapi justru memudahkan, karena tidak harus menyiapkan uang kembalian,” bebernya.

Digitalisasi bagi UMKM saat pandemi, membuat ia tidak banyak menerima uang tunai. Saat pencairan saldo, ia juga bisa memiliki pembukuan yang rapi dan transaksi bisa dipantau. Selain sistem pembayaran, transaksi juga memakai ojek online yang bekerja sama dengan jasa antar pesan khusus makanan. Pembelajaran secara perlahan, membuat UMKM bisa naik kelas ke era digital.

Hal yang sama diakui Nova Utari, ia mengaku adaptasi dan elaborasi diterapkan pada usaha minuman. Semula, menjual minuman hanya memakai tenda. Namun kreasi dalam membuat booth dari rangka baja, membuat lokasi penjualan menarik.

Ia juga memakai QRIS untuk transaksi dan ojek online. Usaha kecil miliknya bisa lebih dikenal melalui promosi media sosial berimbas mendongkrak penjualan.

Lihat juga...