Aktivitas Perikanan di Lempasing Teluk Betung Menyerap Banyak Tenaga Kerja 

Editor: Maha Deva

LAMPUNG – Pagi-pagi buta, Hardiyanti sudah membuka lapak dagangannya. Pedagang ikan di Pelabuhan Perikanan Lempasing, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung tersebut, bersama puluhan pedagang dan pelaku usaha bidang perikanan, sudah terlihat langsung sibuk melayani pembeli.

Hardiyanti menyebut, puluhan kapal tangkap nelayan berbagai ukuran, menjadi sumber mendapatkan ikan laut untuk dijual. Transaksi dilakukan oleh sang suami, mengikuti proses lelang, untuk dijual kembali. Menjaga mutu dan kualitas ikan laut tetap segar, menjadi kunci usaha Hardiyanti untuk mendapatkan pelanggan.

Setiap pagi, Hardiyanti menjual ikan tongkol, ikan simba, selar, layur, dengan keuntungan Rp10.000 hingga Rp20.000 perkilogram. Konsumen yang datang didominasi ibu rumah tangga, pemilik warung makan dan pedagang ikan keliling. Hasil tangkapan nelayan telah menjadi sumber lapangan pekerjaan baginya sejak belasan tahun silam.

Bahrudin, pedagang ikan keliling atau pelele menyortir ikan untuk dijual ke kampung kampung dari pelabuhan perikanan Lempasing, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, Selasa (15/6/2021) – Foto Henk Widi

“Semula modal kecil, namun karena memiliki pelanggan tetap selanjutnya bisa memperbesar usaha, agar bisa menjual banyak ikan. Sejak subuh saya sudah membuka lapak, karena banyak konsumen ibu rumah tangga yang telah datang sejak pagi untuk mendapat ikan segar,” terang Hardiyanti, saat ditemui Cendana News, Selasa (15/6/2021).

Sehari, Hardiyanti minimal bisa menjual sekira 100 kilogram ikan laut segar berbagai jenis. Untuk menjaga kesegaran barang dagangan, dua boks styrofoam berisi es balok, menjadi sarana pendingin ikan. Modal rata-rata yang harus dikeluarkan untuk membeli es balok, Rp30.000. Ikan, biasanya habis terjual di tengah hari, karena sebagian dijual ke pedagang ikan giling.

Halimah, pedagang ikan yang tidak memiliki lapak di Lempasing, mengaku tetap memiliki peluang usaha. Ia kulakan atau membeli ikan laut untuk dijual kembali dengan cara berkeliling. “Saya membawa tampah dan ember menjual ikan ke permukiman warga sejak pagi, untuk kebutuhan ibu rumah tangga,” ujarnya secara terpisah.

Berjualan keliling dengan berjalan kaki, memberi keuntungan ratusan ribu setiap harinya. Dan usaha tersebut juga telah ditekuninya sejak belasan tahun silam. Melimpahnya hasil tangkapan ikan, menjadi sumber lapangan usaha yang mudah dikerjakan para ibu-ibu tersebut. Meski mendapat keuntungan Rp5.000 hingga Rp10.000, hasil berjualan ikan keliling, tetap bisa untuk menghidupi keluarga.

Bahrudin, pedagang ikan keliling memakai motor atau dikenal dengan sebutan pelele, juga datang sejak pagi. Ia membeli berbagai jenis ikan, udang untuk dipasarkan secara langsung kepada masyarakat di sejumlah kampung. Harga jual ikan dari Bahrudin Rp10.000 hingga Rp30.000 perkilogram. “Strategi menjual ikan laut juga melihat daya beli masyarakat, ikan selar, tongkol, udang hingga ikan tengkurungan dijual dengan harga terjangkau,” ulasnya.
Motor dan bahan bakar, kotak penyimpan ikan dengan es balok yang diserut jadi modal utama. Sejak pagi ia telah menyortir ikan dan mengemasnya dengan ukuran satu kilogram. Ia berkeliling sejak pagi ke kampung-kampung di wilayah Pesawaran hingga sore hari. Membawa sekira 50 kilogram ikan, omzet harian bisa mencapai Rp600.000 dengan keuntungan bersih Rp200.000 perhari.
Lihat juga...