Anak Petani ini Lulusan Terbaik Dokter di Unisma

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Bagi Minatul Aini, berprofesi sebagai dokter bukanlah cita-citanya. Bahkan Aini kecil sama sekali tidak pernah berangan-angan menjadi seorang dokter. Terlebih, kedua orangtuanya hanya bekerja sebagai petani.

Namun takdir Tuhan berkata lain, Minatul Aini justru berhasil menyandang gelar dokter setelah menjadi lulusan terbaik program profesi dokter di Universitas Islam Malang (Unisma). Putri dari pasangan Bapak Kusnun dan Ibu Sarinah ini lulus dengan predikat kelulusan sangat memuaskan dengan IPK 3,60 dan lama studi 6,50 semester. Ia juga akan diwisuda secara daring pada tanggal 5-6 Juni 2021 mendatang.

“Sebenarnya saya sama sekali tidak ada cita-cita menjadi dokter, tapi ini merupakan takdir yang harus saya jalani dan syukuri,” ujarnya saat ditemui di Unisma, Kamis (3/6/2021).

Diceritakan Aini, kesempatan menjadi dokter mulai terbuka saat ia menempuh pendidikan SMA di salah satu pesantren di Pacitan. Usai lulus dari pesantren dan melakukan pengabdian di pesantren tersebut ia disarankan oleh pimpinan pesantren untuk mengikuti seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dari Kementerian Agama.

Merasa mendapatkan kesempatan, Aini tidak menyia-nyiakannya dan mengikuti tes hingga akhirnya mendapatkan beasiswa tersebut dan kemudian menempuh pendidikan program studi profesi Dokter di Unisma.

“Karena sejak dari awal bukan menjadi cita-cita, sehingga pada saat kuliah banyak kendala yang dihadapi terutama dari dalam diri sendiri. Saya merasa apakah saya pantas dan bisa menjadi seorang dokter, apalagi di dalam keluarga maupun orang terdekat tidak ada yang berlatar belakang sebagai dokter,” sebutnya.

Keinginan menjadi dokter baru muncul setelah Aini menjalani pendidikan profesi atau KOAS di rumah sakit selama dua tahun lebih. Disana Aini setiap hari harus selalu mengikuti dokter untuk membantu pelayanan pasien.

“Dari situ saya mulai tahu ternyata menjadi dokter itu seperti ini dan sejak saat itu saya mulai bisa menjiwai untuk menjadi dokter,” ungkapnya.

Tempat KOAS berpindah-pindah, pernah di RSUD Kanjuruhan Kepanjen, RSUD Mardi Waluyo kota Blitar, RSUD Blambangan Banyuwangi, RSJ lawang dan RS Bhayangkara Porong, sebutnya.

Lebih lanjut, menurut Aini, dukungan berupa doa dan motivasi yang diberikan kedua orangtuanya sangat berarti bagi keberhasilannya menjadi seorang dokter.

“Kalau dukungan dari orangtua, Alhamdulillah meskipun keduanya tidak bisa banyak memberikan dukungan secara materi, namun motivasi dan doa mereka berdua sangat penting dan sangat berarti bagi saya,” ucapnya.

Selain dukungan dari kedua orangtua, yang tidak kalah penting adalah usaha untuk tetap belajar dan berdoa meminta kepada Tuhan agar usaha diberi kelancaran dan mendapatkan hasil yang terbaik.

Sementara itu Wakil rektor 1 bidang akademik dan kerjasama Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D. mengatakan bahwa prosesi wisuda semester gasal tahun akademik 2020/2021 akan dilaksanakan secara luring dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Dalam penyelenggaraan wisuda luring kali ini kami sudah mengantongi izin dari pihak terkait, dengan berbagai ketentuan protokol kesehatan yang tetap harus dipatuhi oleh setiap peserta wisuda. Bahkan kami menambahkan persyaratan wajib bagi wisudawan dan orangtua yang hadir untuk melaksanakan swab atau rapid antigen, sehingga peserta yang masuk ke ruang wisuda sudah benar-benar melalui proses skrining yang ketat,” pungkasnya.

Lihat juga...