Apa Perbedaan Lansia dan Geriatri?

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Geriatri sudah pasti lansia. Tapi tidak setiap lansia adalah geriatri. Penentunya adalah kondisi kesehatan dari individu lansia tersebut. Kondisi geriatri ini dapat dipulihkan menjadi lansia sehat dan mandiri dengan kondisi tertentu.

Guru Besar Geriatri, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, M.Epid, FINASIM, menjelaskan ada empat masalah kesehatan yang dihadapi lansia, yaitu gangguan mental, asupan nutrisi, penyakit menular dan penyakit tidak menular.

Guru Besar Geriatri, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, M.Epid, FINASIM, menjelaskan perbedaan lansia dan geriatri, dalam sosialisasi menjauhi kerentaan pada lansia menuju lansia sehat dan bahagia, yang digelar oleh Dompet Duafa, Jumat (11/6/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Empat masalah inilah yang menentukan apakah seseorang itu lansia atau geriatri. Jadi berlawanan dengan anggapan masyarakat, bahwa lansia dan geriatri itu sama. Padahal tidak. Sangat berbeda. Tapi geriatri ini bisa diterapi, bisa dikembalikan,” kata Prof. Ati dalam sosialisasi menjauhi kerentaan pada lansia menuju lansia sehat dan bahagia, yang digelar oleh Dompet Duafa, Jumat (11/6/2021).

Lansia, lanjutnya, secara umur adalah individu yang sudah memasuki dan melebihi 60 tahun.

“Individu tersebut memiliki satu penyakit atau tidak memiliki penyakit, independen dalam artian bisa melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain, memiliki fungsi kognitif yang baik dan kapasitas fungsionalnya juga masih baik,” urainya.

Sementara geriatri, merupakan lansia yang memiliki permasalahan kesehatan yang lebih kompleks.

“Geriatri itu multimobirditas. Artinya dia memiliki dua atau lebih penyakit dalam masa bersamaan. Misalnya hipertensi, diabetes dan masalah sendi. Atau jantung dengan darah tinggi,” urainya lagi.

Selain itu itu, geriatri memiliki masalah psikososial kompleks, memiliki sindrom kerentaan (frailty), sarkopenia dan penurunan cadangan fisiologis.

“Dengan kondisi tersebut, geriatri itu dependen. Ia membutuhkan bantuan dari orang lain untuk kegiatannya sehari-hari,” tambahnya.

Prof. Ati menjelaskan dua hal terkait geriatri yaitu kerentaan dan sarkopenia bukanlah kondisi yang tak dapat diperbaiki. Tapi melakukan pencegahan tentunya akan lebih baik.

“Kita semua pastinya menginginkan tetap sehat di usia tua kita. Tidak menjadi renta. Masih tetap mandiri di usia kita. Tapi kenyataannya, kerentaan ini berkaitan dengan kurangnya asupan nutrisi. Asupan nutrisi yang kurang, baik jumlah maupun komposisinya merupakan salah satu yang menyebabkan sarkopenia atau berkurangnya massa otot, dan akhirnya menyebabkan kerentaan, yang korelasinya meningkatkan potensi infeksi, imunitas menurun, kualitas buruk hingga kematian,” tuturnya.

Kerentaan atau pre-renta (pre-frailty) ini bisa dikembalikan pada tahap lansia jika memang terdeteksi sejak dini.

“Pengukuran frailty ini bisa dilakukan dengan beberapa mekanisme. Bisa dengan cara fenotipe, melalui Cardiovascular Health Study atau Study of Osteoporotic Fracture atau Survey of Health, Ageing and Retirement in Europe atau Fatigue, Resistance, Ambulation, Illness, Loss of Weight. Atau dengan cara akumulasi defisit melalui Frailty Index 40 atau Frailty Index Comprehend Griatric Assessment atau Clinical Frail Scale atau Groningen Frailty Indicator,” papar Prof. Ati.

Ia menekankan dengan meningkatnya jumlah lansia saat ini, dengan angka lansia komorbid yang mencapai sekitar 40 persen dari total lansia, maka tak ada pilihan lain selain melakukan upaya yang lebih aktif untuk melakukan pencegahan dibandingkan perawatan pada lansia sakit.

“Edukasi, identifikasi serta promosi hidup sehat dan cara mendeteksi harus dilakukan. Terutama oleh layanan primer, dan lebih bagus lagi jika ada lembaga kesehatan dari swasta atau swadaya masyarakat untuk melakukan pencegahan. Sehingga pekerjaan kita tidak mayoritas pada penyembuhan, yang pastinya membutuhkan biaya lebih banyak, dan memperkecil potensi untuk mendapatkan kualitas hidup baik di masa tua,” paparnya.

Kalaupun sudah memiliki komorbid, haruslah rutin berobat dan kontrol untuk mencegah penyakit memburuk.

“Bagi yang sudah dalam kondisi ketergantungan total, hendaknya berusaha untuk beraktivitas sesuai dengan kapasitasnya. Sehingga tetap memiliki akhir hidup yang bermartabat,” pungkasnya.

Lihat juga...