APAMSI : Industri Surya Indonesia Terkendala Market dan Kebijakan Pemerintah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Perkembangan industri surya di Indonesia dinyatakan pelaku usaha masih terkendala. Baik karena belum berkembangnya market juga karena regulasi dan kebijakan pemerintah yang secara tidak langsung mempengaruhi harga dari panel surya.

Anggota Asosiasi Pengusaha Modul Surya Indonesia (APAMSI) Budiman Setiawan menyatakan kapasitas produksi pabrik dari total anggota yang tergabung dalam APAMSI adalah 500 Mega Watt dengan penggunaannya 10 persen atau sekitar 50 Mega Watt per tahun.

“Kami tidak bisa memproduksi secara full karena memang market di Indonesia masih terkendala. Jadi memang secara regulasi dan teknis, masih banyak aspek yang menimbulkan tambahan biaya pada pelanggan,” kata Budiman saat dihubungi, Selasa (1/6/2021).

Salah satu contohnya adalah masalah pajak yang mengambil porsi variabel cukup besar dalam mempengaruhi harga produk. Kapasitas pabrik di Indonesia juga masih antara 50- 100 Mega Watt per pabrik, yang menyebabkan economy cost-nya masih belum masuk.

“Akhirnya masih mempergunakan modul import, yang memiliki kapasitas produksi per pabrik adalah 3-5 Giga per tahun dan beroperasi 24 jam. Tak seperti pabrik kami, yang masih berbasis project karena kebutuhan pasar yang berubah-ubah,” ucapnya.

Terkadang, pabrik tidak beroperasi tapi di lain waktu pabrik harus beroperasi over time untuk memenuhi pesanan.

“Kami melihat ini sebagai proses awal. Karena panel surya ini masih on going sejak tahun 1990-an dan masih terus berkembang. Harga juga sudah turun luar biasa bersamaan dengan teknologi berkembang sangat cepat,” ucapnya lagi.

Menyikapi perkembangan ke arah energi hijau, Budiman menyebutkan salah satu anggota APAMSI sudah merencanakan untuk masuk dalam fabrikasi teknologi sel untuk panel surya.

“Dengan berkembangnya kebutuhan pasar, harga yang semakim kompetitif dan teknologi yang semakin maju, ukuran energi yang dihasilkan dari sel yang sama akan semakin besar. Market yang mulai terbuka juga akan menarik investor masuk ke panel surya,” tutur Budiman.

Terkait investor, Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Fabby Tumiwa menyebutkan ada beberapa hal yang dijadikan pertimbangan dalam hal industri tenaga surya.

“Yang paling utama adalah para investor mengharapkan adanya kepastian bertumbuhnya market. Sehingga saat mereka berinvestasi ataupun membangun pabrik di negara kita, maka tidak akan sia-sia,” ungkapnya saat dihubungi terpisah.

Artinya pemerintah harus bisa menunjukkan kebijakan jangka panjang yang mendukung perkembangan industri surya.

“Misalnya, terkait kebijakan pajak, perizinan ataupun regulasi lainnya yang mempermudah industri surya dapat berkembang,” pungkasnya.

Lihat juga...