Arissetyanto Nugroho : Presiden Soeharto Pemimpin yang Visioner

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Ketua Pengurus Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Universitas Trilogi, Prof. Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM.IPU menyebutkan, Presiden Soeharto adalah pemimpin yang visioner, yang melihat jauh kedepan dalam pembangunan bangsa serta pemanfaatannya bagi masyarakat.

“Pak Harto adalah seorang pemimpin yang visioner, berpikir jauh kedepan dalam membangun bangsa ini. Terbukti dari karya-karyanya beliau bersama kabinet dan atas dukungan istri tercintanya, Ibu Tien Soeharto,” ujar Aris pada dialog refleksi 100 tahun HM Soeharto Presiden Kedua RI yang disiarkan secara virtual dari Museum Kepresidenan Balai Kirti Bogor, Jawa Barat, Selasa (22/6/2021).

Seperti pembangunan RS Jantung Harapan Kita. “Pada saat itu mungkin di Indonesia belum ada yang sakit jantung, tapi sudah kepikiran untuk mendirikan RS Jantung. Begitu juga dengan RS Kanker Dharmais dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Itu semua pemikiran visioner Pak Harto,” ujar Aris.

Bahkan yang tidak kalah penting, kata Aris, yakni sistem pembelajaran pada saat ini ternyata beliau merestui gagasan pendidikan jarak jauh pada saat itu kepemimpinannya.

“Jadi pada tahun 1994, Prof Setiadi, rektor Universitas Terbuka (UT) pertama ditolak gagasan mendirikan UT oleh Daud Yusuf sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan saat itu,” ujarnya.

Namun setelah digantikan oleh Nugroho Notosusanto, maka gagasan tersebut disetujui dan berjalan hingga sekarang ini.

“Ternyata UT berkembabg sangat baik, dan saat pandemi Covid-19 ini menjadi momentum yang pas dan relevan bahwa pembelajaran jarak jauh itu memang dibutuhkan oleh bangsa ini,” imbuhnya.

Apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan dan proses pendekatan pembelajaran yang tepat adalah sistem digital atau daring untuk meratakan pendidikan.

Lebih lanjut Aris pun menyampaikan, Pak Harto juga sangat berkomitmen agar bangsa ini memliki character building yang kuat yang berbasis pada nilai-nilai ideologi yang sudah digali oleh para pendiri bangsa seperti Soekarno, yaitu Pancasila.

“Saat itu, beliau (Pak Harto) mendirikan BP7 (Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Yang saat ini diteruskan BPIB (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila),” imbuhnya.

Pak Harto kata Aris, selalu mengingatkan bahwa tiada bangsa yang maju tanpa character building yang kuat. Beliau mengajarkan kita untuk menghargai jasa para pendiri negeri ini.

Sebagai contoh, pada 1986 Pak Harto meresmikan bandara dengan nama SOETA sebagai singkatan dari Soekarno-Hatta.

“Ini juga salah satu pembelajaran strategis bagi kita terutama generasi muda untuk  menghargai peran dan jasa pendiri bangsa,” ungkapnya.

Di level international tambah dia, Pak Harto juga mendapatkan banyak penghargaan dunia. Di antaranya dalam pengentasan kemiskinan, swasembada beras, kependudukan dan pendidikan.

Pak Harto mewariskan keteladanan sebagai seorang pemimpin yang rendah hati dan sangat mementingkan kepentingan rakyat dan bangsanya di atas kepentingan pribadi dan keluarganya.

“Pak Harto berpesan bahwa sebuah bangsa yang ingin maju itu harus fokus pada prioritas pembangunan. Yakni bagaimana mengentaskan kemiskinan, pengendalian pendudukan, dan pendidikan. Itulah adalah hal stratgis yang diperlukan suatu bangsa untuk bisa maju,” tutup Aris.

 

Ralat : Mohon maaf, terjadi kesalahan penulis nama untuk Prof. Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM.IPU yang sebelumnya Prof. Dr. Ir. Arissetya Nugroho, MM.IPU.

Lihat juga...