Arti Dari Mainan yang Dipilih Cucu ke-11 Tutut Soeharto Saat Menjalani Tedhak Siten

Editor: Maha Deva

JAKARTA – Pada upacara tedhak siten, Kiara Bella Rukmana, yang merupakan cucu ke 11 dari Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto, menjalani sengkeran dengan dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang sudah dihias bunga melati dan didalamnya diberi berbagai macam mainan.

Kiara Bella Rukmana, putri dari pasangan  Danny Bimo Hendro Utomo Rukmana dan Andi Raiyah Chitra Caesaria Abdussalam, memilih mainan timbangan berwarna merah.  “Ohh, Kiara pilih timbangan ya. Ayo sayang, mainan apa lagi yang akan dipilih,” ujar Eyang Tutut Soeharto, memberi semangat pada Kiara yang terlihat memegang mainan timbangan warna merah pilihannya.

Kemudian, Kiara Bella Rukmana memilih uang mainan berbahan kertas. Namun saat uang-uangan itu dipegangnya, putri pertama dari, Danny Bimo Hendro Utomo Rukmana dan Andi Raiyah Chitra Caesaria Abdussalam, menjatuhkan mainan itu. Sedangkan mainan timbangan tetap dipegangnya dengan erat. “Mainan timbangan itu bermakna hukum. Inshaallah Kiara kelak jadi hakim yang adil,” ucap Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto, yang hadir pada acara tedhak siten untuk Kiara Bella Rukmana.

Kiara Bella Rukmana di dudukkan di tangga tangga tebu oleh kakeknya Indra Rukmana yang didampingi ayahnya Danny Bimo Hendro Utomo Rukmana pada upacara tedhak siten di kediaman Tutut Soeharto di Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (26/6/2021). foto: Sri Sugiarti.

Sontak ucapan Titiek Soeharto pun mendapatkan sambutan hangat dari keluarga besar Cendana, sanak saudara dan tamu undangan. “Aamiin,” ucap semua yang hadir kompak. Setelah proses masuk kurungan ayam atau sengkeran selesai. Kiara Bella Rukmana digendong ayah dan bundanya, untuk kemudian didudukan di kursi yang terbuat dari tebu wulung yang berhiaskan bunga yang harum dan dedaunan. Di atas kursi itu, dialasi tujuh macam kain batik yang bermakna baik.  Kursi ini diletakkan di sebelah tangga tebu.

Selanjutnya, Kiara Bella Rukmana dengan didampingi orang tuanya, melakukan sungkeman kepada Baing (kakek) Indra Rukmana dan Eyang Tutut Soeharto.  Sungkeman juga dilakukan kepada Opa Abdus, panggilan Kiara kepada ayah sang mama, yang bernama Andi Abdussalam Tabusalla. Dan pada nenek ibu (Nebu) Dalia, panggilan sayang Kiara kepada ibu dari sang mama, yang bernama Andi Dalaisya Rifai.

Berlanjut, Kiara Bella Rukmana, yang digendong ayahnya dengan didampingi sang mama, menghampiri para sesepuh dan keluarga besar Tutut Soeharto, serta para tamu untuk meminta doa restu. “Kiara jadi anak yang pintar ya, soleha dan sayang papa mama,” ujar Titiek Soeharto, sambil memegang rambut Kiara.

Begitu juga dengan Danty Indriastuty Purnamasari atau Danty Rukmana, kakak dari Danny Rukmana, yang mendoakan Kiara Bella Rukmana, menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orang tua, bangsa dan negara.

Keceriaan keluarga dan saudara serta para tamu saat mengambil ragam main yang dipikul pada upacara tedhak sinten Kiara Bella Rukmana, putri pasangan  Danny Bimo Hendro Utomo Rukmana dan  Andi Raiyah Chitra Caesaria Abdussalam, yang digelar di kediaman Tutut Soeharto di Jalan Yusuf Adiwinata, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (26/6/2021). foto: Sri Sugiarti.

Sri Retno Dewati, pemandu acara tedhak siten menambahkan, berbagai macam mainan yang menarik di dalam sangkar atau kurungan ayam, berkaitan dengan macam-macam jenis profesi. Dan kemudian si anak dibiarkan memilih. Semua mainan itu melambangkan bahwa si anak akan masuk ke dunia, karena kurungan ayam menyimbolkan dunia.

Proses ini bermakna, si anak akan dibekali dengan berbagai ilmu, baik ilmu tauhid maupun ilmu pengetahuan. “Konon kabarnya dipercaya bahwa mainan yang dipilihnya akan menjadi ketetapan hatinya untuk berkarir. Dan mainan timbangan ini bermakna simbol keadilan hukum,” ujarnya.

Acara tedhak siten Kiara Bella Rukmana diakhiri dengan pembagian mainan anak kepada keluarga, sanak saudara dan para tamu. Ragam mainan itu digantungkan dalam dua pikulan. Semua yang hadir berebutan menarik mainan anak itu. Selain itu, mainan rakyat zaman dulu juga dibagikan, seperti wayang-wayangan, payung-payungan dan kinciran berbahan kertas serta sangkar burung plastik yang mungil. Bahkan telur ayam yang diwarnai merah berhias kertas warna warni menjadi pilihan.  “Ini dolanan anak-anak zaman dulu boleh diambil juga untuk dibawa pulang. Mainan tradisional ini juga penuh makna kehidupan,” ujar Retno.

Lihat juga...