Bantu Ekonomi Keluarga, Perempuan Lamakera Produksi Jagung Titi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Para perempuan di Lamakera tepatnya di Dusun 2, Desa Wotonmutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) memanfaatkan keahlian membuat Jagung Titi untuk membantu ekonomi keluarga.

“Saya biasa buat Jagung setiap hari setelah anak-anak berangkat ke sekolah,” kata Situ Mansur, warga Desa Wotonmutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di desanya, Rabu (9/6/2021).

Siti mengaku kegiatan memproduksi Jagung Titi dilakukan sejak pukul 09.00 WITA setelah menyelesaikan pekerjaan rumah hingga sekitar jam 11.00 WITA.

Setelah menyiapkan makan siang buat keluarga dan beristirahat sebentar dirinya pun kembali melanjutkan pekerjaan tersebut hingga sekitar pukul 16.00 WITA.

Dia mengakui, dalam sehari hanya bisa menghasilkan 2 kantong plastik Jagung Titi sebab tidak maksimal mengerjakannya.

“Sebenarnya bisa menghasilkan 3 kantong plastik apabila tidak sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Satu kantong plastik Jagung Titi dijualnya seharga Rp50 ribu,” ungkapnya.

Siti mengaku menjual Jagung Titi tersebut kepada para nelayan warga Lamakera yang hendak pergi melaut menangkap ikan.

Ia katakan, tidak setiap hari Jagung Titi produksinya dibeli para nelayan namun dirinya tetap melakoni pekerjaan ini untuk menambah kebutuhan keluarga.

“Suami saya nelayan dengan pendapatan pas-pasan. Hasil penjualan Jagung Titi diakuinya bisa menambah kebutuhan keluarga. Apalagi saat pandemi Corona saat ini yang membuat pendapatan nelayan pun berkurang,” ungkapnya.

Sementara itu, Safrida Sukur, warga lainnya mengakui, sejak pandemi Corona penjualan Jagung Titi kepada para nelayan Lamakera yang hendak melaut pun menurun, karena harga jual ikan juga menurun.

Safrida menyebutkan, menurunnya harga jual ikan dan sulitnya memasarkan ikan hasil tangkapan ke luar daerah, membuat pendapatan nelayan di Lamakera menurun.

“Apabila Jagung Titi tidak dibeli, maka warga menyimpannya dengan cara digantung di dalam rumah saja, sebab tidak mungkin dijual ke desa lainnya,” ujarnya.

Safrida, saat ditanya apakah tidak menjual ke Waiwerang, Ibu kota Kecamatan Adonara Timur yang berada di Pulau Adonara yang hanya terpisah laut dengan Lamakera di Pulau Solor, dia pun menggelengkan kepala.

Menurutnya, Jagung Titi banyak diproduksi warga di Pulau Adonara sehingga tidak mungkin menjualnya ke Pulau Adonara dan wilayah lainnya di Pulau Solor. Karena hampir semua desa selalu saja ada perempuan yang memproduksi Jagung Titi.

“Penjualan Jagung Titi memang tidak stabil. Kalau sehari laku satu kantong saja, maka sebulan bisa 30 kantong dan memperoleh pendapatan Rp1,5 juta. Tapi rata-rata sebulan paling banyak hanya Rp1 juta saja,” ucapnya.

Siti dan Safrida mengaku, sejak pandemi Corona pendapatan dari menjual Jagung Titi  hanya Rp500 ribu saja, bahkan bisa kurang.

Keduanya menyebutkan, jika membeli jagung di Waiwerang dengan harga Rp10 ribu menggunakan ukuran 3 wadah plastik berukuran kecil.

“Dengan modal Rp20 ribu untuk beli jagung, baru bisa menghasilkan satu kantong plastik Jagung Titi. Jadi, satu kantong plastik Jagung Titi keuntungannya Rp30 ribu,” ungkap Safrida.

Jagung Titi merupakan makanan lokal yang diproduksi warga etnis Lamaholot yang meliputi Kabupaten Flores Timur, Lembata dan Alor.

Jagung Titi diproduksi dengan cara menggoreng jagung di tembikar yang dibuat dari periuk tanah. Saat jagung hampir matang, menggunakan tangan, jagung diambil dan ditumbuk (titi) hingga berbentuk lempeng.

Jagung yang diambil dengan tangan kiri dari tembikar, lalu diletakkan di atas batu ceper, dan secepat mungkin ditumbuk menggunakan batu bulat ceper berukuran kecil yang dipegang di tangan kanan.

Lihat juga...