Belum Uji Klinik, Penggunaan Ivermectin Harus dalam Pengawasan Ahli Medis

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Penggunaan ivermectin sebagai salah satu terapi COVID-19 masih membutuhkan pengawasan ketat dokter. Mengingat uji klinik ivermectin sebagai terapi COVID-19 belumlah dilakukan dan ivermectin termasuk golongan obat keras.

Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dra. Apt Zullies Ikawati Ph.D, menyebutkan Ivermectin muncul dari laporan tim peneliti di Australia, yang menyatakan bahwa ivermectin memiliki efek antivirus terhadap SARSCoV-2 secara in vitro.

“Yang kemudian dicoba dalam terapi di beberapa negara, dan diuji klinik. Tetapi sampai saat ini, belum ada hasil uji klinik yang benar-benar valid dan kuat untuk memastikan manfaatnya untuk terapi Covid,” kata Prof. Zullies saat dihubungi, Jumat (18/6/2021) siang.

Sehingga, lanjutnya, hingga saat ini obat ini belum disetujui oleh badan otoritas obat seperti BPOM atau FDA sebagai obat Covid.

“WHO membolehkan dipakai hanya dalam konteks uji klinik. Di Jawa Tengah ada pejabat yang mendonasikan obat ini untuk dipakai, tentu saja harus dalam pengawan dokter,” tuturnya.

Ia menegaskan untuk menjadikan Ivermectin sebagai salah satu terapi COVID-19 masih perlu dilakukan uji klinik dalam skala yang lebih luas.

“Beberapa uji klinik melaporkan bahwa obat ini bisa mempercepat kesembuhan, tetapi ada uji lain yang menyatakan tidak bermanfaat. Jadi masih diperlukan uji klinik yang lebih luas dan lebih valid secara metodenya. Karena saat ini kebanyakan masih dalam bentuk uji observasi dan masih banyak faktor perancunya untuk memastikan efeknya,” tuturnya lagi.

Di Indonesia sendiri, Ivermectin masuk dalam golongan obat keras yang ditunjukkan dengan adanya logo lingkaran merah dengan huruf kapital K di tengahnya.

“Artinya hanya bisa diperoleh dengan resep dokter dan penggunaannya harus dalam pengawasan dokter. Obat ini mungkin bisa menimbulkan efek samping bagi orang-orang yang sensitif,” kata Prof. Zullies lebih lanjut.

Tapi ia menyebutkan bahwa Ivermectin sudah diusulkan ke Balitbangkes untuk pengujian.

“Dan sepertinya, protokolnya juga sudah diajukan ke BPOM,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menyebutkan, bahwa saat ini sedang dilakukan persiapan protokol penelitiannya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, dalam sebuah acara, Jumat (15/1/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Akan dilakukan penelitian. Jadi saat ini, Kemenkes sedang mempersiapkan protokol penelitiannya,” kata Nadia.

Maksudnya adalah penyusunan protokol penelitian serta persiapan pengajuan kode etik dan izin dari komite etik serta BPOM.

“Terkait penggunaan ivermectin saat ini sesuai dengan indikasi yang disampaikan BPOM,” pungkasnya.

Lihat juga...