BOR Semarang Tinggi, 45 Persen Kasus Covid-19 dari Luar Kota

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Lonjakan angka Covid-19 di Kota Semarang mulai terjadi. Berdasarkan data siagacorona.semarangkota.go.id, per Selasa (8/6/2020) pukul 18.00 WIB, jumlah kasus aktif mencapai 957 orang, dengan 454 diantaranya dari luar kota Semarang.

Tingginya angka tersebut, menyebabkan Bed Occupancy Ratio (BOR) atau keterisian rawat inap rumah sakit rujukan di Kota Semarang nyaris penuh.

Jika BOR di RSUD Wongsonegoro sebagai salah satu rujukan utama perawatan Covid-19 di Kota Semarang mencapai 98 persen, maka rumah dinas Wali Kota Semarang, yang selama pandemi dimanfaatkan sebagai tempat isolasi, sudah penuh.

“Saat ini, BOR rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Semarang sudah nyaris penuh, bahkan untuk rumah dinas yang selama ini kita fungsikan sebagai tempat isolasi, kondisi saat ini sudah penuh,” terang Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi di Semarang, Selasa (8/6/2021).

Melihat kondisi tersebut, pihaknya kembali meminta rumah sakit untuk menambah kapasitas perawatan. Tidak hanya itu, Pemkot Semarang juga tengah menyiapkan ruang isolasi baru.

“Kondisi sekarang ini, hampir mirip saat awal-awal pandemi dengan adanya lonjakan kasus, sehingga kita putuskan untuk membuka gedung isolasi baru. Alternatifnya, di Islamic Centre atau transit asrama haji Manyaran dan gedung Diklat Pemerintah Kota Semarang.,” terangnya.

Kedua gedung tersebut, sebelumnya juga pernah difungsikan sebagai tempat isolasi dan perawatan, saat kasus Covid-19 di Kota Semarang melonjak tajam pada akhir tahun lalu.

“Kami berupaya mempersiapkan sarana penanganan Covid-19 ini.  Jangan sampai saat ada kasus Covid-19, mau di karantina tidak ada tempat, dokternya tidak ada, perawatannya tidak optimal,” tegasnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Abdul Hakam, menuturkan tingginya kasus Covid-19 di Kota Semarang, salah satunya disebabkan jumlah pasien rujukan dari wilayah sekitar juga tinggi.

“Dari jumlah Covid-19 di Kota Semarang, sekitar 45 persen dari luar kota. Jadi meski saat ini angka tinggi nyaris 1.000 kasus, namun Semarang bukan termasuk zona merah,” terangnya.

Di lain sisi, pihaknya tidak memungkiri kalau angka Covid-19 juga cenderung meningkat. Terutama disebabkan munculnya klaster-klaster baru dari libur Lebaran lalu.

“Selain dari silaturahmi, halal bihalal, dan tempat nongkrong yang juga mulai ramai, kenaikan kasus juga dari daerah hinterland. Seperti dari Kudus  atau Demak, serta lainnya  yang bekerja di Semarang. Jadi indeks kasusnya dari sana,” papar Hakam.

Pihaknya pun meminta agar masyarakat terus menerapkan protokol kesehatan, termasuk menjaga jarak. “Kesadaran memakai masker dan menjaga jarak ini sudah mulai menurun. Ini yang menjadi penyebab utama kenaikan kasus Covid-19,” pungkasnya.

Lihat juga...