BUMDes Didorong Garap Potensi Komoditi di Flotim

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Koordinator Bidang Sosial Tite Hena Jakarta, Andreas Soge saat ditemui di Kelurahan Waiwerang Kota, Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Kamis (8/4/2021). Foto : Ebed de Rosary

LARANTUKA — Paguyuban masyarakat Flores Timur diaspora Jabodetabek yang dikenal dengan Kerukunan Keluarga (KK) Tite Hena Jakarta mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk membeli hasil komoditi perkebunan seperti mete yang menjadi andalan warga Flotim, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Harga komoditi perkebunan cenderung turun di bawah harga keekonomian. BUMDes yang seharusnya jadi lokomotif ekonomi di desa pun tidak membelinya,” ucap Andreas Soge, Koordinator Bidang Kajian Sosial Tite Hena Jakarta saat dihubungi, Selasa (22/6/2021).

Andreas mengatakan, harga satu kilogram mete ketika di panen kadang tidak cukup untuk sekedar membeli satu kilogram beras. Akibatnya, para petani tanaman perkebunan selalu berteriak ketika tiba musim panen, karena sebagian besar hasil perkebunan mereka sudah diijonkan kepada pengepul atau tengkulak.

Ia menambahkan, pengepul atau tengkulak dengan begitu leluasa memainkan harga di tingkat petani, tanpa mampu dikontrol oleh petani itu sendiri.

“Petani seperti tidak berdaulat atas hasil taninya karena harga diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar. Siapa yang kuat dialah yang menjadi pemenangnya dalam arena pasar yang monopoli,” sebutnya.

Andreas mengatakan, diaspora Flotim Jakarta yang tergabung dalam organisasi Tite Hena Jakarta dalam evaluasi akhir tahun 2020 memberi catatan soal hasil komoditi perkebunan dan peran BUMDes sebagai salah satu model kelembagaan ekonomi di tingkat desa yang diakui dan di dorong keberadaannya dalam UU nomor 6 tahun 2014 tentang Desa.

Ia tegaskan, BUMDes seharusnya sudah menjadi prioritas utama Pemerintah Daerah (Pemda) dan Pemerintah Desa (Pemdes) untuk dikembangkan menjadi lokomotif kegiatan ekonomi masyarakat desa.

“Secara kuantitas, jumlah BUMDes yang dibentuk di Flotim semakin meningkat dari tahun ke tahun.Dari 15 BUMDes di periode 2013-2016 menjadi 71 BUMDes di tahun 2019 dan akan bertambah 26 BUMDes baru di tahun 2021 menurut rencana kerja Pemda,” ucapnya.

Andreas tegaskan, sampai hari ini, belum mendengar adanya cerita sukses (success stories) sekurang-kurangnya satu dari antara 71 BUMDes yang telah berdiri. Minimal ada satu BUMDes yang sukses dan bisa menjadi inspirasi desa-desa lain di Flotim untuk belajar mengembangkan BUMDes.

“BUMDes di Flores Timur sepertinya berdiri hanya karena mengejar target kuantitas dan bukan kualitas,” ungkapnya.

Petani mete Desa Kalike, Kecamatan Solor Selatan, Maria Date Sugi saat berbincang di desanya mengeluhkan minimnya harga jual mete yang berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram.

Maria katakan, tahun 2020 harga mete tertinggi berada di angka Rp20 ribu per kilogramnya namun hasil panen mete di tingkat petani mengalami penurunan akibat curah hujan tinggi.

“Saat panen mete melimpah, harga mete turun hingga Rp10 ribu per kilogramnya. Petani sangat kesulitan karena pendapatan menurun saat menyebarnya virus Corona,” ungkapnya.

Lihat juga...